TEORI KOGNITIF PEMBELAJARAN MULTIMEDIA (CTML)
OLEH : DIAN WAHYUDI, S.Pd
TUGAS MATAKULIAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN
2018
Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of
Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh
para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau
presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan
audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan
penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi
pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran
para siswa. (Clark & Mayer, 2011).
Multimedia principle merupakan teori yang
dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya
prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar
lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang
terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta
didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran
tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara
apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada
sebelumnya.
Hasil studi juga menunjukkan bahwasanya
terdapat dua saluran (channel) yang digunakan untuk
melakukan pemrosesan terhadap informasi, yaitu auditori dan visual. Saluran
auditori melakukan pemrosesan terhadap suara yang kita dengar, dan saluran
visual melakukan pemrosesan terhadap apapun yang kita lihat. Dengan
mengkombinasikan kedua proses ini, hasil studi menunjukkan bahwasanya para
peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih mendalam dan hasilnya
tersimpan dalam memori para peserta didik dengan waktu yang lebih lama. Hasil
studi tersebut juga menunjukkan, visual ataupun teks yang sangat banyak bisa
membebani peserta didik. Jadi antar visual dan teks harus diseimbangkan dan
saling berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak membingungkan
proses pembelajaran para peserta didik.
Grafik (graphic) bisa berupa
gambar statis, animasi ataupun video. Adapun tipe-tipe grafik, antara lain:
·
Decorative graphics, grafik jenis ini digunakan hanya untuk
dekorasi saja, tidak meningkatkan kualitas dari pesan yang ingin disampaikan
pada pembelajaran dan terkadang membingungkan peserta didik.
·
Representational graphics, gambaran yang berupa foto yang di dalamnya
terdapat caption (teks) yang menjelaskan tentang foto
tersebut. Contohnya pada gambar di bawah, merupakan foto gunung Everest yang
dilengkapi dengan tempat-tempat untuk berkemah.
- Relational graphic, menggambarkan
adanya hubungan yang bersifat kuantitatif antara dua atau lebih variabel.
·
Telah
banyak studi yang dilakukan dan membuktikan bahwasanya teori ini valid dan
terus berkembang saat ini. Selama lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti
bagaimana peserta didik melakukan proses pembelajaran dan mencari cara terbaik
untuk menstimulus kedua saluran tersebut, auditori dan visual. Dia melakukan
sebelas penelitian untuk membandingkan peserta didik yang mana yang melakukan
proses pembelajaran dengan baik, dibandingkan antara yang menggunakan animasi
dan narasi atau yang menggunakan teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan
teks saja. Seluruh penelitiannya menyatakan para peserta didik yang belajar
dengan grafik dan teks bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik
dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks saja.
·
Contiguity Principle
·
Secara
sederhana prinsip ini diartikan sebagai, “mendekatkan (align) teks dengan grafik yang sesuai” (Clark &
Mayer, 2011). Hal ini berarti, subjek utama secara fisik tidak boleh terpisah
dari teksnya. Prinsip contiguity ini
secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu
disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait.
Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara
fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.
Prinsip ini mungkin tampak sederhana dan intuitif, akan
tetapi terdapat beberapa “pelanggaran” yang mungkin dilakukan terhadap prinsip
ini. Clark & Mayer (2011) memberikan beberapa contoh pelanggaran tersebut
di bawah ini [di sini kami tidak menuliskan semua contohnya, ed]:
·
Terpisahnya teks dan grafik karena harus di-scroll dari
satu laman ke laman lainnya pada layar komputer (biasanya ditemukan pada
halaman web instruksional).
·
Terpisahnya kuis dengan feedback-nya.
Terkadang feedback disediakan pada laman yang terpisah dari
pertanyaan kuisnya, hal ini membuat para peserta didik kesulitan untuk mencari
keterkaitan atau hubungan antara feedback dengan pertanyaannya.
·
Penyajian arahan saat mengerjakan ujian
(seperti klik di sini, kemudian klik di sini) yang terpisah dari ujian itu
sendiri. Hal ini mendorong peserta didik untuk berpikir sedikit keras agar
terbiasa menjalankan arahan yang diberikan pada layar (screen) yang terpisah dan ini
adalah pelanggaran terhadap prinsip contiguity.
·
Secara simultan menampilkan teks dan animasi
yang berkaitan. Hal ini mendorong peserta didik untuk membaca ulang teks,
kemudian melihat grafik, kemudian melihat teks lagi, begitu seterusnya.
·
dll
Berbagai macam studi telah dilakukan untuk mendukung
prinsip contiguity ini. Moreno dan Mayer (1999) menemukan
bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik ketika
teks dan animasi ditempatkan saling dekat antara satu dengan yang lain
dibandingkan dengan yang berjarak jauh antara satu dengan yang lain. Mereka
juga melaporkan pada hasil publikasi yang sama, narasi diberikan secara
simultan dengan animasi untuk para peserta didik dan secara temporal dipisahkan
dengan animasi. Peserta didik dengan kondisi narasi dan animasi ditampilkan
secara simultan melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika dibandingkan
dengan kondisi dimana narasi dan animasi dipisahkan antar satu dengan yang
lain.
Modality Principle
Secara umum, prinsip modality adalah lebih banyak menampilkan narasi
(perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text)
(Clark dan Mayer, 2011). Peserta didik akan melakukan pembelajaran dengan lebih
baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi audio,
terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang
dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat
penting untuk dicatat bahwasanya prinsip modality akan semakin terasa manfaatnya ketika
materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik (Tindall-Ford, Chandler
& Sweller, 1977).
Menurut pandangan ilmu psikologi, tugas peserta didik
dalam proses pembelajaran adalah menerima informasi. Banyak peserta didik lebih
mudah menerima informasi lewat narasi audio jika dibandingkan dengan on-screen text,
terlebih jika narasi dan gambar ditampilkan secara bersamaan dengan tepat,
dengan perkataan yang familiar dan grafik yang kompleks. Jika menggunakan on-screen text peserta
didik bisa terbebani dengan banyaknya visual dan gambar pada layar dan di saat
yang sama mereka harus memproses grafik dan teks yang ada.
Moreno & Mayer (1999) melakukan penelitian dengan
memisahkan dua kelompok peserta didik dengan dua metode pembelajaran yang
berbeda dengan topik terjadinya kilat. Kelompok pertama diberikan animasi yang
menggambarkan tahapan terbentuknya kilat, pada animasi tsb juga dilengkapi
dengan narasi audio penjelasan terbentuknya kilat yang ditampilkan secara
bersamaan. Pada kelompok kedua, mereka diberikan animasi yang dilengkapi dengan on-screen text yang
juga ditampilkan secara bersamaan. Kelompok yang pertama, yang animasinya
dilengkapi dengan narasi audio ternyata bisa menjelaskan dengan lebih
signifikan dibandinng dengan kelompok yang kedua.
Prinsip Modality sepertinya tidak bisa diimplementasikan
pada situasi dimana ternyata penjelasannya panjang dan kompleks, kemudian
terdapat simbol-simbol ataupun istilah teknis ataupun penjelasannya tidak
menggunakan bahasa asli peserta didik, ataupun materi yang disampaikan dengan
kecepatan yang kecil, dll.
Redudancy Principle
Pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak
melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip
redudansi menyatakan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran
dengan lebih baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang
ditampilkan secara visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi
materi-materi yang bersifat redundan, menghilangkan narasi dan teks yang
bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan
pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika
mendengar dan melihat pesan verbal secara bersamaan selama presentasi
pembelajaran (Hoffman, 2006).
Coherence Principle
Salah satu kesalahan yang umum dilakukan ketika
pengembang e-learning merancang proyek atau courseadalah menggunakan latarbelakang musik, konten
dan grafik on-screen yang tidak relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali.
Menurut Clark dan Mayer (2011) dalam buku: “E-learning and the Science of
Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi
yang tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti
suara, gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan
materi yang menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan
para pengguna.
Personalization Principle
Prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional
(percakapan) dan virtual coaches (Clark & Mayer, 2011).
Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan konten dengan nada
percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran. Clark dan Mayer (2011)
juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal bisa membantu peserta
didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan.
Kita harus menggunakan
percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga peserta didik bisa
berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara manusia dengan
manusia (human-to-human conversations).
Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
Segmenting Principle
Segmentasi merupakan prinsip yang sangat sederhana,
dimana kita hanya membagi segmen yang lebih luas menjadi segmen-segmen yang
lebih kecil. Cara yang umum digunakan pada materi yang disegmentasi ini adalah
dengan cara memainkan tombol “Continue” pada masing-masing frame pada setiap
slide. Hal ini bisa bermanfaat untuk, pertama: bisa membantu peserta didik
untuk berpindah dari satu slide ke slide lainnya sesuai dengan seleranya
masing-masing dan kedua mereka bisa mencerna informasi yang ada sesuai dengan
kecepatan (berpindah dari satu slide ke slide lainnya) untuk bekerja dengan
lebih baik. Menurut Clark dan Mayer (2011), rasional dari menggunakan
segmentasi adalah bisa memberikan manfaat kepada peserta didik untuk mencerna
informasi tanpa harus meng-overload sistem kognitif.
Pre-training Principle
Secara umum, prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama
dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari sesuatu.
Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses materi
esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang
begitu kompleks.
Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi
para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan
dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi,
kemudian dijelaskan di bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah
pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.
Sangat berguna
BalasHapus