TUGAS PSIKOLOGI OLAHRAGA
MAKALAH
FENOMENA 4 ORANG ATLET BASKET JEPANG MENYEWA PSK PADA PELAKSANAAN ASIAN GAMES 2018 JAKARTA-PALEMBANG DILIHAT DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGI OLAHRAGA
OLEH : DIAN WAHYUDI, S.Pd
TAHUN 2018
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Asian Games
merupakan ajang olahraga di kawasan Benua Asia yang dilaksanakan rutin empat
tahun sekali. Pelaksanaan Asian Games yang Ke-18 Tahun 2018 dilaksanakan di Jakarta
dan Palembang. Pada perhelatan Asian Games ke 18 Tahun 2018 Jakarta dan
Palembang kali ini diikuti oleh 45 negara dikawasan benua Asia dan terdiri dari
40 cabang olahraga. Salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan adalah Bola
Basket.
Cabang olahraga bola basket adalah salah satu olahraga
beregu yang sangat populer didunia. permainan bola basket dimainkan oleh dua
regu yang masing-masing regu terdiri dari 5 orang pemain dilapangan. Salah satu
negara kuat dan merupakan unggulan cabang olahraga bola basket pada ajang Asian
Games ke 18 tahun 2018 adalah Negara Jepang, empat tahun lalu di Icheon mereka
merebut perunggu.
Namun sangatlah disayangkan, ada 4 orang pemain basket
negeri sakura yang melakukan pelanggaran yang tidak semestinya dilakukan oleh
atlet profesional yaitu mereka mengenakan pakaian tim nasional Basket Jepang
dalam melakukan perbuatan bejatnya yaitu menyewa pekerja sex komersial dan terlibat skandal
sex.
B.
Tujuan Penulisan
1.
Memenuhi
salah satu tugas mandiri mata kuliah Psikologi
Olahraga
2. Membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan tetang Psikologi Olahraga.
3. Melatih mahasiswa untuk menulis dan berpikir kritis.
2. Membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan tetang Psikologi Olahraga.
3. Melatih mahasiswa untuk menulis dan berpikir kritis.
PEMBAHASAN
Pada pergelaran Asian Games ke-18 Tahun 2018
Jakarta dan Palembang ada empat
pemain basket nasional Jepang untuk Asian Games 2018, Yuya Nagayoshi, Takuya
Hashimoto, Takuma Sato, dan Keita Imamura dipulangkan ke negeri asalnya pada
Senin (20/8/2018). Hal
itu terjadi setelah mereka terbukti terlibat skandal seks yang bermula dari laporan
seorang wartawan Jepang yang melihat mereka berempat sedang menawar jasa
seorang PSK di kawasan Blok M, Jakarta. Sebelumnya,
keempat atlet itu tepergok sedang berada di sebuah daerah "red
district" Jakarta dengan masih mengenakan seragam tim nasional.
Kejadian ini bermula ketika Jepang sukses memenangkan laga melawan
Qatar dengan skor 82-71. Nagayoshi,
satu di antara pemain basket yang terlibat dalam kasus ini, mengaku tidak
bermaksud menyewa PSK sebelum kejadian. Awalnya mereka baru saja selesai makan malam di Blok M
Jakarta. Lalu datang seorang wanita menawarkan diri. Lalu datang pula satu orang Jepang yang membantu melakukan negosiasi
harga, dan akhirnya kita bawa ke hotel wanita tersebut," ungkap Nagayoshi. Sementara Hashimoto, pemain lainnnya,
mengaku mempunyai perasaan tak enak saat itu. Para atlet itu rupanya kepergok oleh salah satu reporter
surat kabar Jepang yang
kebetulan juga tengah berada di wilayah tersebut. Wartawan tersebut memergoki mereka
menawar PSK dan menjadikannya berita. Keempat atlet tersebut telah menyatakan permintaan maaf
secara resmi dalam sebuah konferensi pers di Jepang pada Senin, (20/8/2018).
Adapun keempat pemain tersebut
adalah sebagai berikut :
1.
Yuya Nagayoshi
Yuya Nagayoshi merupakan pemain basket
profesional Jepang yang bermain untuk Kyoto
Hannaryz dari B.League di Jepang. Pria kelahiran Kagoshima 27 tahun
silam ini pernah menempuh pendidikan di Aoyama Gakuin University. Dalam timnya, Yuya Nagayoshi berada di
posisi center.
2.
Takuya Hashimoto
Masih terbilang muda, Takuya Hashimoto
lahir pada 3 Desember 1994. Sebagai
pemain basket, tentu Takuya punya
postur tubuh yang terbilang tinggi, yakni 185 cm.
3.
Takuma Sato
Usia Takuma Sato tak berjarak jauh
dengan Takuya Hashimoto. Pebasket
berkebangsaan Jepang ini lahir pada 10 Mei 1995.
4.
Keita Imamura
Keita Imamura lahir pada 25 Januari
1996. Pebasket asal Jepang ini bermain untuk Niigata
Albirex Jepang dari
tahun 2017 hingga kini. Dalam
timnya, Keita berada di posisi swingman.
Kejadian itu menjadi pukulan bagi Tim basket Jepang,
dan keempat atlet basket tersebut dipulangkan ke Jepang. Sesampainya di Bandara Narita Tokyo Jepang, keempat pemain basket tersebut ditemani
oleh Ketua Asosiasi Basket Jepang (JBA), Yuko Mitsuya, meminta maaf dan
menyesal atas perlakuan buruk mereka dalam konferensi pers yang digelar untuk
media pada Senin malam waktu Jepang. Lewat
penjelasan Mitsuya, JBA akan membentuk komite independen yang terdiri dari
pengacara untuk mendiskusikan perihal potensi hukuman yang akan diberikan untuk
keempat atlet tersebut. JBA juga telah melaporkan insiden ini ke Federasi
Bola Basket Internasional (FIBA).
Pembahasan Dari Sudut Pandang Psikologi Olahraga
1.
Atlet
Banyak peristiwa besar
dalam dunia olahraga, khususnya dalam pertandingan besar , baik nomor
perorangan maupun beregu yang akan menghasikan hasil yang memuaskan maupun
sebaliknya (Gunarsa Singgih D : 2008). Konsep diri bagaimana individu
bertingkah laku, salah satunya dipengaruhi oleh gambaran individu terhadap
diirinya (Firdaus, Kamal : 2012). Kejadian yang menimpa empat orang atlet bola
basket Jepang pada pergelaran Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang
merupakan tingkah laku yang sangat merugikan bagi si atlet. selain itu juga
kerugian besar untuk tim basket Jepang dalam menghadapi pertandingan besar
se-Asia yaitu Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Jakarta dan Palembang.
Sebagai mahkluk sosial,
individu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan individu lain. ketika individu
bergabung dengan individu lain dalam membentuk sebuah kelompok, maka akan
terjadi dinamika sebagai akibat dari bertemunya berbagai macam karakteristik
individu (Firdaus, Kamal : 2012). Insiden seperti ini bukan pertama kalinya
terjadi untuk Jepang. Pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, Negeri
sakura tersebut harus memulangkan atlet renangnya, Naoya Tomita, setelah
terbukti mencuri kamera milik salah satu jurnalis.
Tindakan itu melanggar tata
perilaku dan mengkhianati harapan masyarakat Jepang.
Sebagai hukuman
mereka bukan cuma dipulangkan lebih cepat. Para pebasket tersebut juga mesti menanggung biaya kepulangannya
dari kantong sendiri Akibatnya, serta status keanggotaan mereka dari Tim Nasional
(Timnas) Basket Jepang pun resmi dicabut pada Minggu 19 Agustus 2018. Nagayoshi
dan ketiga temannya langsung dikirim pulang ke Jepang pada Senin (20/8/2018)
pagi.
Dampak
psikologi yang bisa terjadi terhadap Si Atlet antara lain adalah Stres dan
Frustasi. Setiap orang mempunyai ambang stress (“stress
tershold”) tersendiri. Dalam kenyataan dapat terjadi gejala yang
dinamakan “over-stress threshold”,yaitu stress yang memuncak
melebihi ambang batas stress yang di kuasai seseorang. Sudah barang tentu hal
ini dapat memberikan pengaruh terhadap penampilan individu yang bersangkutan.
Menurut Suparinah dan Sumarno Markam (1982),
jika stress yang dihadapi seseorang berlangsung terus menerus, maka akan timbul
kecemasan. Kecemasan adalah suatu perasaan tak berdaya, perasaan tak aman,
tanpa sebab yang jelas. Perasaan cemas atau “anxiety” kalau
dilihat dari kata “anxiety”berarti perasaan tercekik.
Menurut Sappenfield (1945) frustasi dapat
terjadi pada saat individu mulai melihat adanya gangguan kepuasannya. Apabila
pemenuhan kebutuhan atau pencapaian kepuasan tidak terpenuhi, maka atlet dapat
mengalami frustasi.
Frustasi positif dapat di tafsirkan bahwa
pada diri individu yang bersangkutan ada rintangan terhadap kemajuan individu
mencapai tujuan, tanpa adanya pengaruh dari luar (perlakuan) yang membatasi
tercapainya kepuasan.
2.
Pelatih
Pelatih
ialah seseorang yang bertugas untuk mempersiapkan fisik dan mental olahragawan
maupun kelompok olahragawan
(Suhendro, A : 2001) Sebagian besar pelatih merupakan bekas
atlet. Pelatih mengatur taktik, strategi, pelatihan fisik dan menyediakan
dukungan moral kepada atlet. Peran seorang pelatih tidak hanya melatih pelari
untuk dapat berlari cepat, ataupun melatih sekelompok orang (tim) untuk dapat
bermain basket dengan baik. Akan tetapi ia juga mendidik atlet untuk
berdisiplin, kerja keras, pantang menyerah dalam menjalani setiap aktivitas,
dan sebagainya. Seorang pelatih seyogyanya juga memiliki intelegensi yang
tinggi, realistic, praktis, percaya diri, inventif, dan mampu mengambil
keputusan.
Dapat menjalankan profesinya secara efektif,
seorang pelatih harus memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu keolahragaan
(sport sciences), tidak hanya menyangkut bidang kepelatihan, tetapi juga bidang
pendukung lain seperti biomekanik/kinesiology, medis, psikologi, dan
pendidikan. Lebih dari itu, seorang pelatih juga harus memiliki kualifikasi personal
dan moral yang memadai. Seorang pelatih juga harus memiliki pola
kepemimpinan yang baik untuk digunakan dalam melatih atletnya.
Pelatih
basket Jepang, Herman Julian Mandole menceritakan, timnya tengah dirundung masa
sulit. Tidak saja jumlah pemainnya berkurang menjadi delapan orang saja, tapi
juga sisi psikologis. "Masalahnya bukan delapan pemain atau 12 pemain.
Kami akan tetap berjuang keras dengan berapapun jumlah kami (Mandole dikutip
antara news, Kamis (23/8). Beban tersebut lebih berat ketika berada di
luar lapangan ketimbang di dalam lapangan. Sejak kejadian tak memalukan itu,
setiap sesi latihan selalu dikerubuti wartawan. Terkait
dengan ketidak disiplinan atlet saat peristiwa akbar. Salah satu aturan
kedisiplinan tersebut menyangkut soal larangan bagi atlet untuk bepergian
seenaknya tanpa pengawasan. Ada pengawasan
dan pengawalan khusus bagi atlet
karena keamanan mereka menjadi prioritas. Untuk masalah etik dan disiplin pastinya
akan dapat hukuman dari kontingen, juga dari IOC.
Pelatih hendaknya melakukan Pendekatan
Komitmen kepada atletnya agar selalu menjaga kode etik dan budaya dari negara atlet
tersebut berasal ataupun kode etik dan budaya serta peraturan dari negara yang
dikunjunginya. Pendekatan komitmen merupakan salah satu hal
yang sangat penting dalam psikologi olahraga ini. Dengan adanya komitmen
dalam diri seseorang, maka hal tersebut akan menjadi motvasi atau pendorong bagi
seorang atlet untuk melakukan kegiatan atau tanggung jawabnya sebaik mungkin
sebagi seorang atlet yang patut dibanggakan.
3.
Masyarakat
Menurut Koenjaraningrat
(2012: 122) “masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya
berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”.
Menurut
Parsons (2011: 264) mendefinisikan
“masyarakat sebagai suatu jenis sistem sosial yang dicirikan oleh tingkat
kecukupan diri yang relatif bagi lingkungannya, termasuk sistem sosial yang
lain”.
Menurut
J.L. Gilin dan J.P. Gilin dalam Syani (2012:32), “masyarakat
merupakan kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi,
sikap, dan persatuan yang sama”.
Masyarakat
merupakan sekumpulan manusia (individu) yang bertempat tinggal di wilayah
tertentu dimana saling berinteraksi dalam kehidupan sosialnya, berkumpul dan
saling ketergatungan antara individu satu dan individu lainnya.
Berdasarkan pendapat dari para ahli
diatas, kalo kita kaitkan dengan kasus yang menimpa empat orang atlet basket
Jepang sangat berkaitan sekali. Karena ditengah-tengah masyarakat banyak sekali
pembicaraan mengenai skandal tersebut. bahkan tim basket putra Jepang menjadi pusat perhatian di
Kampung Atlet Kemayoran. Setiap mereka berjalan di kampung atlet menjadi
sorotan banyak orang. Pelatih basket
Jepang, Herman Julian Mandole menceritakan "Begini masalahnya, Anda
berjalan di kampung atlet dan orang-orang mengamati Anda. Kami tidak melakukan
apa-apa. Saya selalu berada di kampung atlet, sepanjang malam," ujarnya. "Kami
memiliki kode disiplin khusus, ini merupakan pelanggaran yang jelas dari kode
etik untuk delegasi Jepang. Para atlet harus menjadi teladan bagi masyarakat. Mandole juga mengakui
bahwa tak jarang publik yang terlanjur kecewa dengan empat oknum tersebut
lantas melimpahkannya kepada dirinya dan para pemainnya. Ia pun merasa tidak
nyaman dengan situasi yang kurang kondusif tersebut. “Ketika kami latihan,
media mencoba mengambil foto dan banyak orang di sini yang tidak membicarakan
basket. Mereka malah membicarakan hal lain. Kami ini pemain basket, bukan
bintang musik rock. Tentu saja kami tidak merasa nyaman dengan situasi semacam
ini.
Di tengah kondisi sulit yang dialami mereka, ternyata tak
menyurutkan mental pemain lain dalam berjuang untuk mengharumkan nama Jepang. Pada hari Rabu (23/8),
tim putra basket Jepang ini berhasil mengalahkan Hongkong. Mereka unggul 88-82
dalam laga penyisihan Grup C Asian Games 2018. Naoto Tsuji pencetak 8 poin dalam kemenangan ini mengatakan bahwa ingin
menyampaikan ucapan penghargaan karena panitia telah memberikan kesempatan bagi
timnya untuk meneruskan permainan meskipun beberapa rekannya telah melakukan
indisipliner. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi didunia
olahraga. Tindakan ini melanggar kode etik
tim nasional dan itu mengkhianati harapan warga Jepang khususnya serta
masyarakat olahraga pada umumnya. Atlet seharusnya selalu
menjadi sinbol baik masyarakat karena ada berbagai orang yang mengikuti mereka
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Kepribadian merupakan ciri khas seseorang dalam berfikir,
bertindak, dan berperilaku dengan berbagai pengaruh yang dibawanya seperti
lingkungan pendidikan maupun keturunan.
2. Salah
satu aturan kedisplinan menyangkut soal larangan bagi atlet untuk bepergian
seenaknya tanpa pengawasan.
3.
Atlet seharusnya tidak hanya hebat dalam mengumpulkan medali
emas, tetapi juga memberi contoh baik di luar lapangan. Hal ini disebabkan banyak
generasi muda yang akan meniru mereka.
B.
Saran
Dalam
penyusunan Tugas mandiri ini, kami selaku
penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun
penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya, di karenakan kami masih dalam tarap pembelajaran.
Seperti
ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading yang tak retak “. Maka dari itu kami
selaku penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami
bisa lebih baik lagi dalam pembuatan tugas mandiri berikutnya sehingga tugas mandiri berikutnya lebih sempurna dan lebih baik.
REFERENSI
Gunarsa, Singgih D. Psikologi
Olahraga Prestasi” Gunung Mulya, Jakarta 2008.
Suhendro, A.
2001. dasar-dasar kepelatihan. Jakarta: pusat penerbit UT. Depdiknas
Harsono (1989). Coaching Dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam
Coaching. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat jenderal
Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. hlm. 250.
Firdaus.Kamal.
“Psikologi Olahraga Teori dan Prestasi” Press FIK UNP 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar