Senin, 03 Desember 2018



TUGAS PSIKOLOGI OLAHRAGA
MAKALAH
FENOMENA 4 ORANG ATLET BASKET JEPANG MENYEWA PSK PADA PELAKSANAAN ASIAN GAMES 2018 JAKARTA-PALEMBANG DILIHAT DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGI OLAHRAGA

OLEH : DIAN WAHYUDI, S.Pd
TAHUN 2018


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Asian Games merupakan ajang olahraga di kawasan Benua Asia yang dilaksanakan rutin empat tahun sekali. Pelaksanaan Asian Games yang Ke-18 Tahun 2018 dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Pada perhelatan Asian Games ke 18 Tahun 2018 Jakarta dan Palembang kali ini diikuti oleh 45 negara dikawasan benua Asia dan terdiri dari 40 cabang olahraga. Salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan adalah Bola Basket.
Cabang olahraga bola basket adalah salah satu olahraga beregu yang sangat populer didunia. permainan bola basket dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu terdiri dari 5 orang pemain dilapangan. Salah satu negara kuat dan merupakan unggulan cabang olahraga bola basket pada ajang Asian Games ke 18 tahun 2018 adalah Negara Jepang, empat tahun lalu di Icheon mereka merebut perunggu.
Namun sangatlah disayangkan, ada 4 orang pemain basket negeri sakura yang melakukan pelanggaran yang tidak semestinya dilakukan oleh atlet profesional yaitu mereka mengenakan pakaian tim nasional Basket Jepang dalam melakukan perbuatan bejatnya yaitu menyewa pekerja sex komersial dan terlibat skandal sex.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Memenuhi salah satu tugas mandiri mata kuliah Psikologi Olahraga
2.    Membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan tetang Psikologi Olahraga.
3.
  Melatih mahasiswa untuk menulis dan berpikir kritis.



PEMBAHASAN
Pada pergelaran Asian Games ke-18 Tahun 2018 Jakarta dan Palembang ada empat pemain basket nasional Jepang untuk Asian Games 2018, Yuya Nagayoshi, Takuya Hashimoto, Takuma Sato, dan Keita Imamura dipulangkan ke negeri asalnya pada Senin (20/8/2018). Hal itu terjadi setelah mereka terbukti terlibat skandal seks yang bermula dari laporan seorang wartawan Jepang yang melihat mereka berempat sedang menawar jasa seorang PSK di kawasan Blok M, Jakarta. Sebelumnya, keempat atlet itu tepergok sedang berada di sebuah daerah "red district" Jakarta dengan masih mengenakan seragam tim nasional.
Kejadian ini bermula ketika Jepang sukses memenangkan laga melawan Qatar dengan skor 82-71. Nagayoshi, satu di antara pemain basket yang terlibat dalam kasus ini, mengaku tidak bermaksud menyewa PSK sebelum kejadian. Awalnya mereka baru saja selesai makan malam di Blok M Jakarta. Lalu datang seorang wanita menawarkan diri. Lalu datang pula satu orang Jepang yang membantu melakukan negosiasi harga, dan akhirnya kita bawa ke hotel wanita tersebut," ungkap Nagayoshi. Sementara Hashimoto, pemain lainnnya, mengaku mempunyai perasaan tak enak saat itu. Para atlet itu rupanya kepergok oleh salah satu reporter surat kabar Jepang yang kebetulan juga tengah berada di wilayah tersebut. Wartawan tersebut memergoki mereka menawar PSK dan menjadikannya berita. Keempat atlet tersebut telah menyatakan permintaan maaf secara resmi dalam sebuah konferensi pers di Jepang pada Senin, (20/8/2018).
Adapun keempat pemain tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Yuya Nagayoshi
Yuya Nagayoshi merupakan pemain basket profesional Jepang yang bermain untuk Kyoto
Hannaryz dari B.League di Jepang. Pria kelahiran Kagoshima 27 tahun silam ini pernah menempuh pendidikan di Aoyama Gakuin University. Dalam timnya, Yuya Nagayoshi berada di posisi center.
2.      Takuya Hashimoto
Masih terbilang muda, Takuya Hashimoto lahir pada 3 Desember 1994. Sebagai pemain basket, tentu Takuya punya postur tubuh yang terbilang tinggi, yakni 185 cm.
3.      Takuma Sato
Usia Takuma Sato tak berjarak jauh dengan Takuya Hashimoto. Pebasket berkebangsaan Jepang ini lahir pada 10 Mei 1995.
4.      Keita Imamura
Keita Imamura lahir pada 25 Januari 1996. Pebasket asal Jepang ini bermain untuk Niigata Albirex Jepang dari tahun 2017 hingga kini. Dalam timnya, Keita berada di posisi swingman.
Kejadian itu menjadi pukulan bagi Tim basket Jepang, dan keempat atlet basket tersebut dipulangkan ke Jepang. Sesampainya di Bandara Narita Tokyo Jepang, keempat pemain basket tersebut ditemani oleh Ketua Asosiasi Basket Jepang (JBA), Yuko Mitsuya, meminta maaf dan menyesal atas perlakuan buruk mereka dalam konferensi pers yang digelar untuk media pada Senin malam waktu Jepang. Lewat penjelasan Mitsuya, JBA akan membentuk komite independen yang terdiri dari pengacara untuk mendiskusikan perihal potensi hukuman yang akan diberikan untuk keempat atlet tersebut. JBA juga telah melaporkan insiden ini ke Federasi Bola Basket Internasional (FIBA).

Pembahasan Dari Sudut Pandang Psikologi Olahraga
1.      Atlet
Banyak peristiwa besar dalam dunia olahraga, khususnya dalam pertandingan besar , baik nomor perorangan maupun beregu yang akan menghasikan hasil yang memuaskan maupun sebaliknya (Gunarsa Singgih D : 2008). Konsep diri bagaimana individu bertingkah laku, salah satunya dipengaruhi oleh gambaran individu terhadap diirinya (Firdaus, Kamal : 2012). Kejadian yang menimpa empat orang atlet bola basket Jepang pada pergelaran Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang merupakan tingkah laku yang sangat merugikan bagi si atlet. selain itu juga kerugian besar untuk tim basket Jepang dalam menghadapi pertandingan besar se-Asia yaitu Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Jakarta dan Palembang.
Sebagai mahkluk sosial, individu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan individu lain. ketika individu bergabung dengan individu lain dalam membentuk sebuah kelompok, maka akan terjadi dinamika sebagai akibat dari bertemunya berbagai macam karakteristik individu (Firdaus, Kamal : 2012).  Insiden seperti ini bukan pertama kalinya terjadi untuk Jepang. Pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, Negeri sakura tersebut harus memulangkan atlet renangnya, Naoya Tomita, setelah terbukti mencuri kamera milik salah satu jurnalis.
Tindakan itu melanggar tata perilaku dan mengkhianati harapan masyarakat Jepang.
Sebagai hukuman mereka bukan cuma dipulangkan lebih cepat. Para pebasket tersebut juga mesti menanggung biaya kepulangannya dari kantong sendiri Akibatnya, serta status keanggotaan mereka dari Tim Nasional (Timnas) Basket Jepang pun resmi dicabut pada Minggu 19 Agustus 2018. Nagayoshi dan ketiga temannya langsung dikirim pulang ke Jepang pada Senin (20/8/2018) pagi.
Dampak psikologi yang bisa terjadi terhadap Si Atlet antara lain adalah Stres dan Frustasi. Setiap orang mempunyai ambang stress (“stress tershold”) tersendiri. Dalam kenyataan dapat terjadi gejala yang dinamakan “over-stress threshold”,yaitu stress yang memuncak melebihi ambang batas stress yang di kuasai seseorang. Sudah barang tentu hal ini dapat memberikan pengaruh terhadap penampilan individu yang bersangkutan.
Menurut Suparinah dan Sumarno Markam (1982), jika stress yang dihadapi seseorang berlangsung terus menerus, maka akan timbul kecemasan. Kecemasan adalah suatu perasaan tak berdaya, perasaan tak aman, tanpa sebab yang jelas. Perasaan cemas atau “anxiety” kalau dilihat dari kata “anxiety”berarti perasaan tercekik.
Menurut Sappenfield (1945) frustasi dapat terjadi pada saat individu mulai melihat adanya gangguan kepuasannya. Apabila pemenuhan kebutuhan atau pencapaian kepuasan tidak terpenuhi, maka atlet dapat mengalami frustasi.
Frustasi positif dapat di tafsirkan bahwa pada diri individu yang bersangkutan ada rintangan terhadap kemajuan individu mencapai tujuan, tanpa adanya pengaruh dari luar (perlakuan) yang membatasi tercapainya kepuasan.

2.      Pelatih
Pelatih ialah seseorang yang bertugas untuk mempersiapkan fisik dan mental olahragawan maupun kelompok olahragawan (Suhendro, A : 2001) Sebagian besar pelatih merupakan bekas atlet. Pelatih mengatur taktik, strategi, pelatihan fisik dan menyediakan dukungan moral kepada atlet. Peran seorang pelatih tidak hanya melatih pelari untuk dapat berlari cepat, ataupun melatih sekelompok orang (tim) untuk dapat bermain basket dengan baik. Akan tetapi ia juga mendidik atlet untuk berdisiplin, kerja keras, pantang menyerah dalam menjalani setiap aktivitas, dan sebagainya. Seorang pelatih seyogyanya juga memiliki intelegensi yang tinggi, realistic, praktis, percaya diri, inventif, dan mampu mengambil keputusan.
Dapat menjalankan profesinya secara efektif, seorang pelatih harus memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu keolahragaan (sport sciences), tidak hanya menyangkut bidang kepelatihan, tetapi juga bidang pendukung lain seperti biomekanik/kinesiology, medis, psikologi, dan pendidikan. Lebih dari itu, seorang pelatih juga harus memiliki kualifikasi personal dan moral yang memadai.  Seorang pelatih juga harus memiliki pola kepemimpinan yang baik untuk digunakan dalam melatih atletnya.  
Pelatih basket Jepang, Herman Julian Mandole menceritakan, timnya tengah dirundung masa sulit. Tidak saja jumlah pemainnya berkurang menjadi delapan orang saja, tapi juga sisi psikologis. "Masalahnya bukan delapan pemain atau 12 pemain. Kami akan tetap berjuang keras dengan berapapun jumlah kami (Mandole dikutip antara news, Kamis (23/8). Beban tersebut lebih berat ketika berada di luar lapangan ketimbang di dalam lapangan. Sejak kejadian tak memalukan itu, setiap sesi latihan selalu dikerubuti wartawan. Terkait dengan ketidak disiplinan atlet saat peristiwa akbar. Salah satu aturan kedisiplinan tersebut menyangkut soal larangan bagi atlet untuk bepergian seenaknya tanpa pengawasan. Ada pengawasan dan pengawalan khusus bagi atlet karena keamanan mereka menjadi prioritas. Untuk masalah etik dan disiplin pastinya akan dapat hukuman dari kontingen, juga dari IOC.
Pelatih hendaknya melakukan Pendekatan Komitmen kepada atletnya agar selalu menjaga kode etik dan budaya dari negara atlet tersebut berasal ataupun kode etik dan budaya  serta peraturan dari negara yang dikunjunginya. Pendekatan komitmen merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam psikologi olahraga ini. Dengan  adanya komitmen dalam diri seseorang, maka hal tersebut akan menjadi motvasi atau pendorong bagi seorang atlet untuk melakukan kegiatan atau tanggung jawabnya sebaik mungkin sebagi seorang atlet yang patut dibanggakan.

3.      Masyarakat
Menurut Koenjaraningrat (2012: 122) “masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”. 
Menurut Parsons (2011: 264) mendefinisikan “masyarakat sebagai suatu jenis sistem sosial yang dicirikan oleh tingkat kecukupan diri yang relatif bagi lingkungannya, termasuk sistem sosial yang lain”. 
Menurut J.L. Gilin dan J.P. Gilin dalam Syani (2012:32), “masyarakat merupakan kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan persatuan yang sama”. 

Masyarakat merupakan sekumpulan manusia (individu) yang bertempat tinggal di wilayah tertentu dimana saling berinteraksi dalam kehidupan sosialnya, berkumpul dan saling ketergatungan antara individu satu dan individu lainnya.
Berdasarkan  pendapat dari para ahli diatas, kalo kita kaitkan dengan kasus yang menimpa empat orang atlet basket Jepang sangat berkaitan sekali. Karena ditengah-tengah masyarakat banyak sekali pembicaraan mengenai skandal tersebut. bahkan tim basket putra Jepang menjadi pusat perhatian di Kampung Atlet Kemayoran. Setiap mereka berjalan di kampung atlet menjadi sorotan banyak orang. Pelatih basket Jepang, Herman Julian Mandole menceritakan "Begini masalahnya, Anda berjalan di kampung atlet dan orang-orang mengamati Anda. Kami tidak melakukan apa-apa. Saya selalu berada di kampung atlet, sepanjang malam," ujarnya. "Kami memiliki kode disiplin khusus, ini merupakan pelanggaran yang jelas dari kode etik untuk delegasi Jepang. Para atlet harus menjadi teladan bagi masyarakat. Mandole juga mengakui bahwa tak jarang publik yang terlanjur kecewa dengan empat oknum tersebut lantas melimpahkannya kepada dirinya dan para pemainnya. Ia pun merasa tidak nyaman dengan situasi yang kurang kondusif tersebut. “Ketika kami latihan, media mencoba mengambil foto dan banyak orang di sini yang tidak membicarakan basket. Mereka malah membicarakan hal lain. Kami ini pemain basket, bukan bintang musik rock. Tentu saja kami tidak merasa nyaman dengan situasi semacam ini.
Di tengah kondisi sulit yang dialami mereka, ternyata tak menyurutkan mental pemain lain dalam berjuang untuk mengharumkan nama Jepang. Pada hari Rabu (23/8), tim putra basket Jepang ini berhasil mengalahkan Hongkong. Mereka unggul 88-82 dalam laga penyisihan Grup C Asian Games 2018. Naoto Tsuji pencetak 8 poin dalam kemenangan ini mengatakan bahwa ingin menyampaikan ucapan penghargaan karena panitia telah memberikan kesempatan bagi timnya untuk meneruskan permainan meskipun beberapa rekannya telah melakukan indisipliner. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi didunia olahraga. Tindakan ini melanggar kode etik tim nasional dan itu mengkhianati harapan warga Jepang khususnya serta masyarakat olahraga pada umumnya. Atlet seharusnya selalu menjadi sinbol baik masyarakat karena ada berbagai orang yang mengikuti mereka



PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kepribadian merupakan ciri khas seseorang dalam berfikir, bertindak, dan berperilaku dengan berbagai pengaruh yang dibawanya seperti lingkungan pendidikan maupun keturunan.
2.      Salah satu aturan kedisplinan menyangkut soal larangan bagi atlet untuk bepergian seenaknya tanpa pengawasan.
3.      Atlet seharusnya tidak hanya hebat dalam mengumpulkan medali emas, tetapi juga memberi contoh baik di luar lapangan. Hal ini disebabkan banyak generasi muda yang akan meniru mereka.

B.     Saran
Dalam penyusunan Tugas mandiri ini, kami selaku penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami masih dalam tarap pembelajaran.
Seperti ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan tugas mandiri berikutnya sehingga tugas mandiri berikutnya lebih sempurna dan lebih baik.



REFERENSI
Gunarsa, Singgih D. Psikologi Olahraga Prestasi” Gunung Mulya, Jakarta 2008.
Suhendro, A. 2001. dasar-dasar kepelatihan. Jakarta: pusat penerbit UT. Depdiknas
Firdaus.Kamal. “Psikologi Olahraga Teori dan Prestasi” Press FIK UNP 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar