Senin, 03 Desember 2018





ANALISIS KONDISI PSIKOLOGIS ATLET ATLETIK MUHAMMAD LALU ZOHRI SEBELUM PERTANDINGAN, SAAT PERTANDINGAN DAN SESUDAH PERTANDINGAN ASIAN GAMES 2018


MATA KULIAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN



DISUSUN OLEH :
DIAN WAHYUDI, S.Pd (P2A118023)




MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
2018





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Cabang olahraga atletik merupakan gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi Lari, Lempar, Lompat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani "athlon" yang berarti "kontes". Atletik merupakan cabang olahraga yang diperlombakan pada Olimpiade pertama pada 776 SM. Kalau kita mengatakan perlombaan atletik, pengertiannya adalah meliputi perlombaan jalan cepat, lari, lompat, dan lempar, yang dalam bahasa Inggris digunakan istilah “track and field”. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti perlombaan yang dilakukan di lintasan (track) dan di lapangan (field).
Olahraga atletik selalu dipertandingkan dalam event-event kecil maupun besar besar, baik itu tingkat provinsi (Porprov), tingkat Nasional (PON), tingkat Asia tenggara (Sea Games), Tingkat Asia (Asian Games) dan tingkat Dunia (Olimpiade) serta evant-event lainya. olahraga ini banyak menyediakan medali dikarenakan banyaknya nomor pertandingan yang dilombakan. Nomor yang dipertandingkan dalam atletik adalah :
1.      Nomor – nomor Lari
Ø  Lari Jarak pendek (100, 200, 400 m)
Ø  Lari Jarak menengah (800 dan 1500 m)
Ø  Lari jarak jauh (5000, 10.000 m dan marathon 42,195 km)
Ø  Lari halang rintang
Ø  Jalan cepat (10.000, 20.000, 50.000 m)
2.      Nomor – nomor Lompat
ü  Lompat jauh, lompat jangkit, lompat tinggi, dan lompat galah.
3.      Nomor – nomor Lempar
ü  Tolak peluru, lempar cakram, lempar lembing, lontar martil.
 Indonesia banyak melahirkan atlet-atlet hebat cabang olahraga atletik, Atlet yang berhasil mengukir prestasi dikancah pertandingan level Asia dan Asia Tenggara diantaranya M. Sarengat (Emas 100 M Asian Games 1962), Maria Natalia Londa (Emas Lompat Jauh Asian Games Icheon 2014) AF Matulessy (Perunggu lempar lembing Asian Games 1951 India), Suryo Agung Wibowo (Emas Sea Games 2009) Irene Joseph (perunggu Sea Games 2007) Trianingsih (emas 5000 m Sea Games 2015) Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara (Perak Estafet 4 x 100 M Asian Games 2018) Serta masih banyak lagi atlet lainnya yang mampu mengukir sejarah guna mengharumkan Indonesia dilevel Asia.
Afdiharo Mardi Lestari adalah satu-satunya atlet dari Benua Asia yang bisa ikut pada Olimpiade Soul 1988 dan hanya mampu sampai babak semifinal dan pada saat itu Mardi Lestari mendapat julukan manusia tercepat Asia. Seorang anak muda berusia 18 tahun berasal dari keluarga miskin yang tinggal di desa yang berada di pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah orang Indonesia Pertama yang mampu menjadi juara dunia lari jarak pendek. Atlet tersebut bernama Lalu Muhammad Zohri peraih Emas Kejuaran Dunia Junior 2018 di Finlandia. Lalu Muhammad Zohri berhasil melaju ke babak final nomor lomba lari 100 m serta bersama rekannya  meraih medali perak estafet 4 x 100 m.
Lalu Muhammad Zohri mendadak tenar. Laki-laki yang kerap disapa Zohri ini lahir di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada 1 Juli 2000. Ia adalah putra ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad dan bekerja sebagai nelayan. Sejak kecil Zohri hidup mandiri dan tak mampu bahkan dia adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan yatim piatu karena orang tua telah lama meninggal. Selain hanya bisa berlatih telanjang kaki di atas pasir pantai, kedua orang tua Zohri kini telah tiada. Ibunya meninggal saat dia masih duduk di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat saat dirinya menginjak usia 17 tahun. Zohri pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya yang terbuat dari kayu. Banyak sekali prestasi yang ditorehkan oleh Zohri, dan yang paling fenomena setelah sukses menyabet medali emas pada perhelatan Kejuaraan Atletik Dunia U-20 2018 yang diselenggarakan di Finlandia. Ia menjadi sprinter 100 meter tercepat di dunia dengan rekor 10.18. Zohri juga berhasil masuk Final lari 100 m, dan menjadi satu-satunya wakil dari asia tenggara. Namun perjuangan Zohri di Final belum berbuah medali dan hanya menempati peringkat ke enam dengan catatan waktu 10.20 detik. Kegagalan Lalu Muhammad Zohri di final 100 m dapat terobati pada nomor estafet 4 x 100 m memperoleh medali perak.
Seluruh prestasi yang diraih oleh atlet tersebut tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Proses pencapaian prestasi maksimal dalam olahraga memerlukan jangka waktu yang panjang dan biaya yang besar untuk mendapatkan hasil yang optimal. Keberhasilan atlet dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling mendukung antara faktor yang satu dengan lainnya. Faktor tersebut berasal dari dalam maupun dari luar atlet itu sendiri yang meliputi faktor fisik, psikologis, teknik, taktik, pelatih, sarana dan prasarana latihan, latihan, sosial, dan sebagainya. Menurut Alderman dalam Sudibyo Seyobroto (1993:16) menyatakan bahwa penampilan atlet dapat ditinjau dari empat dimensi yaitu :1). Dimensi kesegaran jasmani meliputi antara lain daya tahan, daya ledak, kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan, reaksi, keseimbangan, ketepatan, dan sebagainya. 2). Dimensi keterampilan meliputi antara lain: kinestetika, kecakapan berolahraga tertentu, koordinasi gerak, dan sebagainya. 3). Dimensi bakat pembawaan fisik meliputi antara lain: keaadan fisik, tinggi badan, berat badan, bentuk badan, dan sebagainya. 4). Dimensi psikologi meliputi: motivasi, percaya diri, agresivitas, disiplin, kecemasan, intelegensi, keberanian, bakat, kecerdasan, emosi, perhatian, kemauan, dan sebagainya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah : bagaimana psikologi atlet lari Lalu Muhammad Zohri pada waktu sebelum pertandingan, saat pertandingan dan setelah pertandingan Asian Games 2018 Jakarta – Palembang.

BAB II
PEMBAHASAN

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri. Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Singer, R.N. (1980) mengemukakan secara singkat bahwa psikologi olahraga adalah “the Science of Psychology applied to athletes and athletic situations” Cox, R.H. (1986) mengemukakan bahwa Sport Psychology is a science in which the principles of psychology are applied in a sport setting”. Jadi, Psikologi Olahraga pada hakikatnya adalah psikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga, meliputi faktor-faktor yang berpengatuh secara langsung terhadap atlet dan faktor-faktor di luar atlet yang dapat mempengaruhi penampilan (performance) atlet tersebut.
 Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga i adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya. Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai, mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut. Pengaruh psikologis pada atlet akan sangat dibutuhkan pada waktu sebelum pertandingan, saat pertandingan dan sesudah pertandingan.

A.    Sebelum Pertandingan
Setelah atlet dilatih baik fisik, teknik, strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk menguji hasil latihannya adalah dengan terjun ke dalam pertandingan. Tentunya diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang didapat saat latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat pertandingan. Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal untuk menghadapi suatu pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga tercapailah prestasi puncak.
Yang terasa berat mengalami gangguan psikologi sebelum pertandingan adalah Lalu Muhammad Zohri. Atlet berusia 18 tahun ini mendapatkan berita duka yang sangat sedih dan rasa rindu yang teramat dalam terhadap keluarga dikampung apalagi saat ini keluarganya sedang mengungsi karena gempa yang mengguncang Lombok beberapa waktu lalu. "Saya memang sedikit terganggu dengan berita itu. Kepikiran juga, sekarang keluarga masih mengungsi di gunung. Namun, mereka meyakinkan saya baik-baik saja dan agar fokus saja ke Asian Games 2018," ucap Lalu Muhammad Zohri.
Menurut analisis Kelompok 5, cara mengatasi permasalahan yang dihadapi sebelum pertandingan antara lain adalah :
1.      Berpikiran Positif
Lalu Muhammad Zohri atlet lari jarak pendek dan estafet pada ajang Asian Games 2018 hendaknya harus selalu berpikir positif dan tidak hanyut dengan apa yang terjadi di Lombok. Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh guna mengikuti pertandingan dan meraih prestasi membanggakan pada ajang Asian Games 2018.
2.      Motivasi
Motivasi adalah salah satu elemen penting guna meningkatkan peforma atlet terkhusus Lalu Muhammad Zohri dkk. Motivasi adalah suatu kekuatan dari dalam maupun dari luar diri sendiri yang menginisiasi, memberi arah, menetukan intensitas dan mempengaruhi suatu perilaku menjadi persisten/berkesinambungan/terus menerus. ( Vallerand dan Thill, 2007). Dengan demikian motivasi merupakan penggerak dan pendorong atlet guna tetap konsisten dalam berlatih. Hal ini dialami oleh Lalu Muhammad Zohri yang sedang mengalami kegalauan yang diakibatkan oleh bencana alam yang melanda keluarganya di kampung halaman.
Berkat dorongan dan keinginan yang kuat untuk menjadi juara dan diiringi dengan banyak tawakal, berdo’a dan selalu ingat dan berserah diri kepada Allah SWT menjadi kunci motivasi intrinsik yang perlu dilakukan oleh Zohri. Motivasi ekstrinsik juga diberikan oleh kakak kandung zohri yang selalu berpesan agar zohri jangan selalu memikirkan keadaan mereka. begitu juga dari teman Zohri di Lombok memberi motivasi agar saya tidak menyerah dan jangan berputus asa. Dia meminta saya untuk tetap tawakal, berdoa, dan selalu ingat Allah," kata Zohri. Pelatih, pengurus dan rekan-rekan zohri di pelatnas Atletik juga memberikan motivasi yang membuatnya terus berlatih guna mengibarkan bendera merah putih pada ajang Asian Games 2018 Jakarta - Palembang.
3.      Kekompakan
Pada cabang olahraga atletik, khususnya nomor lomba lari estafet 4 x 100 m banyak sekali mengalami gangguan dari segi psikologi. Atlet lari  estafet 4 x 100 m yang terdiri dari Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara sangat sulit untuk melakukan kekompakan.
Untuk mempersiapkan dan melatih kekompakkan empat orang ini semua untuk menjadi satu, satu tujuan, tidak mudah. Kekompakan dapat dikatakan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan sama saling berinteraksi dalam kinerja membentuk suatu kolaborasi usaha pada setiap anggota kelompok sesuai peran masing-masing. (Sukendro, 2017).  Jadi, pada setiap latihan, setiap hari, kami selalu berdiskusi terutama perpindahan tongkat dari pelari pertama ke dua, dari dua ke tiga, dan tiga ke empat apakah dengan jarak segitu sudah cocok atau belum. Di antara mereka juga bisa memperbaiki pertukaran tongkat itu. Memang rahasianya di estafet adalah pertukaran tongkat," kata Eni Nuraini (Pelatih lari jarak pendek Indonesia). Sementara itu, Fadlin mengatakan kekompakan jadi kunci agar pertukaran tongkat berlangsung mulus. Faktor inilah yang harus terus diasah agar bisa percaya satu sama lain. Kuncinya agar perpindahan tongkat mulus adalah kebersamaan tim dan juga kekompakan. Selain itu, kami satu sama lain juga sudah sama-sama paham keinginan teman. Selain itu, yang terpenting juga harus percaya satu sama lain.

4.       Pembatasan Media Massa
Media massa berupa media cetak dan elektronik. Dalam penyampaian pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapat mempengaruhi opini kita. Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga membentuk sikap tertentu. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Tigor Tanjung, tak membantah adanya instruksi pembatasan interaksi antara Lalu Muhammad Zohri dengan media jelang Asian Games 2018. Dikatakan Tigor, hal itu dilakukan pihaknya demi kebaikan sang atlet. Seperti diketahui, beberapa hari jelang Asian Games 2018 pergerakan media untuk mewawancarai Lalu Muhammad Zohri menjadi terbatas. Contohnya ketika Bola.com mencoba untuk mewawancarai kampiun Kejuaraan Atletik Dunia U-20 itu di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Kamis (2/8/2018). Bola.com mendapatkan larangan untuk mewawancarai Zohri. Wakil Sekretaris Jenderal PB PASI, Sri Hastuti Merdiko, yang saat itu berada di lokasi menyebut untuk peliputan Zohri harus melalui perizinan terlebih dahulu. Hal itu ternyata bukan berlaku untuk Zohri saja, melainkan seluruh atlet yang bernaung di PB PASI.
Pembatasan ini sangat bagus, karena semata-mata bertujuan agar Lalu Muhammad Zohri dkk tidak terganggu konsentrasinya pada saat berlatih. Wartawan atau fotografer seharusnya tidak masuk ke lintasan dan menyiarkan berita-berita yang negatif buat atlet. Karena para atlet harus fokus pada program latihan yang diberikan jelang Asian Games 2018. dikhawatirkan, persiapan para atlet Atletik terganggu dengan pemberitaan di media.
B.     Saat Pertandingan
Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik atau bagaimana harus melangkah dan berlari. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi
penuh hanya pada pertandingan.
Menurut analisa dari kelompok 5, cara mengurangi beban psikologi pada saat
pertandingan  sebaiknya atlet dianjurkan untuk :
1.      Berdoa dan Berserah diri kepada Allah SWT
Berdoa adalah solusi terbaik melepaskan diri dari pikiran negatif. Jujurlah kepada Allah dengan apa yang anda rasakan saat ini. Bila anda merasa takut, akuilah, dan mintalah kepada Tuhan keberanian. Bila merasa lemah, akuilah, mintalah kepada Tuhan diberi kekuatan. Atau berdoalah secara netral minta diberi kekuatan untuk bermain sebaik mungkin. Atau cukup bersyukur, berpasrah akan menang-kalah kepada Tuhan. Berdoa ini wajib dilakukan, tetapi jangan memaksakan diri berdoa dalam cara yang anda tidak nyaman atau tidak biasa melakukannya. Intinya, berdoalah dalam cara yang membuatmu nyaman. Dalam buku Quantum Ikhlas disebutkan bahwa “Tuhan akan mengabulkan doa yang diucapkan di hati, bukan di mulut”.
2.      Fokus
Fokus pada permainanmu sendiri. Jangan memikirkan apapun, jangan memikirkan lawan, wasit, juri, nomor urut atau yang lain. Fokuslah pada dirimu sendiri. Jangan membebani pikiranmu dengan hasil pertandingan (menang atau kalah). yang penting bermain sebaik mungkin dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Perlu diketahui oleh atlit yaitu ketika ia berlatih, atlit harus memiliki keteguhan mental “berlatih untuk menang”. Tetapi ketika akan bertanding, lupakan menang kalah, pikirkan bagaimana “bermain semaksimal mungkin”. keluarkan power maksimal hingga hingga finis. Toh apabila atlit telah berlatih secara sungguh-sungguh sebelumnya, semuanya akan menjadi naluriah/otomatis.
Terkadang kita merasa kesulitan untuk merasakan apakah pikiran kita terfokus atau tidak. Inilah satu kata kunci untuk fokus: nikmatilah masa sekarangJangan memikirkan masa lalu, jangan memikirkan masa depan. Jangan memikirkan yang sudah terjadi, atau yang anda takutkan/perkirakan akan terjadi. Memikirkan masa lalu atau masa depan akan membuat anda cemas dan mengurangi konsentrasi.
Pikiran masa lalu contohnya: memikirkan lawan anda adalah seorang juara nasional, bukankah itu hal yang sudah lalu? Atau terlalu memikirkan strategi bermain yang diinstruksikan pelatih. Permainan dapat berlangsung diluar dugaan, jadi siap saja dengan apapun yang terjadi. Sedangkan pikiran masa depan contohnya: merasa takut akan terbanting, akan kalah, atau akan dihajar oleh lawan. Itu adalah masa depan yang belum terjadi, jadi mengapa dipikirkan? Atau terlalu ambisius memikirkan kemenangan. Atau memperediksi diri sendiri akan kalah. Apa yang terjadi di masa depan bukanlah urusan andajadi nikmati saja permainan (saat sekarang) sebaik-baiknya. Sadari benar-benar berada di mana anda saat ini, apa yang sedang anda lakukan, kemudian nikmatilah. Bila anda memang telah berlatih dengan serius, semuanya akan berjalan secara naluriah dan otomatis. 
3.      Melakukan pemanasan ringan
Sambil melakukan pemanasan ringan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat' dan optimis serta tetap berpikir positif jangan biarkan pikiran-pikiran negatif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas.
4.      Memantau tingkat kecemasan, jika mendapatkan kondisi kecemasan maka lakukan relaksasi. buatlah diri sendiri senyaman mungkin. menurut kelompok 5, rileksasi bisa berupa menarik napas dalam-dalam terus dihembuskan melalui mulut sambil mengucapkan ‘huaahhh’, melakukan lompatan-lompatan ringan dan lain sebagainya.
5.      Buat pikiran tetap rileks namun terfokus. Jangan terlalu rileks, tetapi juga jangan terlalu tegang. Teralu rileks akan membuat anda lengah dan meremehkan lawan, sementara terlalu tegang akan menurunkan kemampuan anda. Kata kuncinya adalah: Nikmati sebaik-baiknya.
6.      Berlombalah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
7.      Menjalankan strategi yang telah disiapkan. maksudnya strategi yang telah disiapkan jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan
 penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.
8.       Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan sendiri dan
menyerah sebelum pertandingan selesai.

C.  Sesudah Pertandingan
Apapun hasilnya, menang atau kalah, itu bukanlah suatu alasan untuk kehilangan etika terhadap orang lain atau diri sendiri. Seorang atlit sejati harus tetap bersikap dewasa bagaimanapun hasil pertandingannya. Menang atau kalah, ia tetap harus menjunjung etika baik pada orang lain atau pada dirinya sendiri. Kata kuncinya adalah: Bersikap dewasa.
Kekecewaan karena kalah, atau euforia karena menang seringkali membuat seoarng atlit kehilangan kendali dan bersikap kekanak-kanakan. Boleh saja menikmati kemenangan atau meratapi kekalahan tetapi itu baru boleh dilakukan setelah pulang bertanding. Ketika pertandingan belum selesai, ketika masih ada rekan anda satu tim yang masih bermain, anda harus mengendalikan diri.
Menurut analisa kelompok 5, setelah pertandingan atlet dianjurkan untuk :
1.      Etika menang-kalah
Entah anda menang atau kalah, anda tetap harus memberi dukungan dan semangat kepada lawan yang kalah, bisa berupa ucapan, berjabat tangan dan pelukan. Jangan mentang-mentang sudah menang lalu anda berlaku seenaknya, apalagi bila anda bertingkah laku sombong, maka bukan simpati atau penghormatan yang anda dapatkan tapi rasa dengki dan muak. Sesungguhnya keberhasilan seseorang.
Contoh-contoh diatas juga berlaku apabila anda kalah. Jangan karena kalah lalu anda bertindak seenaknya. Jangan terhanyut dalam kesedihan atau kekecewaan, karena anda masih dibutuhkan meskipun anda kalah. Kuasai diri anda, karena emosi negatif yang berlebihan akan membuat pikiran menjadi negatif.
2.      Istirahat
Yang harus dilakukan setelah bertanding adalah pendinginan (cooling down) dan kemudian beristirahat. Terutama bila setelah itu anda harus bermain lagi. Ganti kaos yang basah karena keringat dengan kaos kering (inilah pentingnya mempersiapkan perlengkapan pribadi), gantung baju seragam (yang mungkin akan dipakai lagi), bereskan kembali peralatan  agar jangan tercecer, karena anda akan membutuhkannya lagi.
Kemudian setelah itu rilekskan pikiran dan tubuh, istirahatlah untuk memulihkan kebugaran. Sama seperti sebelumnya, buat diri anda senyaman mungkin. Kemudian dalam istirahat pun anda butuh fokus. Jangan memikirkan kesalahan atau kelalaian yang baru saja diperbuat dalam bertanding tadi. Terutama bila anda menang dan maju ke babak berikutnya, jangan merasa senang dahulu karena anda masih harus berjuang hingga final. Fokus pada apa yang anda lakukan sekarang: istirahat untuk memulihkan tubuh dan pikiran.
Ini juga berlaku bila ternyata anda kalah atau gagal maju ke babak selanjutnya. Pendinginan tetap harus dilakukan, lalu istirahatlah untuk menjernihkan pikiran. Biasanya memang ada luapan emosi yang berlebihan (sedih atau marah), tetapi pada saat itu istirahatlah sejenak agar otak dapat berpikir rasional, sehingga anda bisa bersikap dewasa dalam menghadapi kekalahan.
3.      Evaluasi
Entah menang atau kalah, evaluasi wajib dilakukan, namun sebaiknya kita bersikap fleksibel mengenai waktu dan caranya. Terkadang memang pelatih mengadakan forum khusus untuk mengevaluasi atlit, atau pelatih menyampaikan evaluasi permainan dalam pembicaraan empat mata yang sifatnya pribadi, atau ada yang sama sekali tidak memberikan evaluasi (biasanya karena pelatih menganggap atlit sudah bisa mengevaluasi permainannya sendiri). Entah pelatih memberikan atau tidak, sebagai atlit anda harus melakukan evaluasi. Evaluasi bisa dilakukan secara mandiri atau oleh pelatih/ofisial.
Evaluasi secara mandiri adalah dengan melakukan monolog dengan diri sendiri. Berbicaralah dengan diri sendiri, bagaimana permainan anda tadi. Berdiskusilah dengan diri sendiri dalam hati sejujur mungkin. Atau anda bisa melakukannya dengan menuliskannya (seperti membuat catatan harian). Intinya, anda melakukan flashback, memutar kembali apa yang telah terjadi. Sebaiknya lakukan evaluasi mandiri dulu kemudian ceklah dengan berdiskusi bersama pelatih atau ofisial anda. Cara yang umum dipakai adalah menanyakan kepada mereka pertanyaan terbuka ”Bagaimana menurut mas/mbak permainan saya tadi?”. Pertanyaan itu akan membuat pembicaraan berlanjut menjadi diskusi. Pembicaraan ini dapat berlangsung pribadi atau dengan kehadiran orang lain (teman setim, manajer atau ofisial lainnya), yang penting lakukanlah dalam suasana yang santai. Bila anda dalam suasana rileks, anda akan lebih mudah menerima masukan.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan melakukan evaluasi ketika anda masih merasakan emosikarena evaluasi itu tidak akan bergunaKetika masih emosi, anda cenderung tidak objektif menilai diri sendiri. Rasa marah, sesal, kecewa, sedih, dll karena karena kekalahan bisa membuat anda menghakimi diri sendiri sebagai atlit yang payah, kalahan, dan sederet julukan negatif lainnya. Bukan hanya itu, ketika masih merasakan emosi, anda akan menjadi sangat sensitif terhadap kritik. Kritik, saran, bahkan guyonan kecil saja bisa membuat anda semakin minder/rendah diri, atau lebih parah lagi anda anggap sebagai penghinaan.  Ini juga berlaku bila anda menang atau meraih juara. Euforia kemenangan akan membuat anda tidak mampu melihat kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Dalam situasi ini, sebagai orang yang berada di puncak pun anda tidak akan bisa menerima kritik saran dari orang lain karena toh anda sudah berhasil. Disini kita akan mudah terlena.
Oleh karena itu istirahatkan pikiran dan tubuh anda dulu hingga anda bisa secara objektif melakukan evaluasi. Tubuh mungkin akan pulih kembali dalam hitungan jam, namun psikis berbeda-beda setiap orang. Ada yang bisa langsung pulih secara psikis dalam beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu baru bisa berpikir jernih dan rasional. Biasanya ini tergantung kedewasaan dan karakter masing-masing atlit. Jadi tidak masalah bila evaluasi baru dilakukan beberapa hari sepulang dari pertandingan, yang penting tunggulah hingga pikiran anda objektif, tetapi semakin cepat semakin baik. Biasanya pelatih yang baik akan memberikan evaluasi di hari pertama latihan setelah atlit pulang dari pertandingan.
4.       Jangan Terjerat Star Syndrome (Bintang dadakan)
Mungkin dapat kami artikan Star syndrome merupakan gejala ketidak normalan yang terjadi akibat dari seseorang yang merasa terkenal atau popular, hebat dan sebagainya sehingga akhirnya menjadi lupa diri. Ada istilah "Mempertahankan lebih berat daripada meraihnya". Apa yang diraih Zohri sewaktu-waktu bisa saja berubah. Zohri yang kini dielu-elukan, bisa saja dilupakan. Zohri diminta untuk tak terpengaruh dengan banjirnya pemberitaan, dan pujian mengenainya sehingga dia bisa konsentrasi penuh pada kejuaraan selanjutnya.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Indonesia (PB PASI), Mohammad Hasan meminta pencapaian Zohri tidak perlu dibesar-besarkan. Dia khawatir, Zohri akan terbeban karena mendapatkan banyak pujian. Presiden Jokowi juga mengucapkan terima kasih atas prestasi membanggakan yang ditorehkan Zohri. "Semangat latihan, jangan sombong, jangan sombong, selalu rendah hati karena perjalanan saya Insya Allah masih panjang," kata Zohri
meniru perkataan Jokowi.


5.      Bergelimang Bonus
Bonus adalah kompensasi tambahan yang diberikan kepada seorang atas prestasi yang diraihnya yang nilainya di atas nilai normalnya. Bonus bisa digunakan sebagai penghargaan terhadap pencapaian suatu hasil tujuan atas dedikasinya. Bonus bisa juga menjadi dorongan seseorang untuk meraih prestasi.
Allah SWT berfirman (Surat Al Baqarah ayat 148) Fastabiqul Khoirot yang artinya berlomba – lombalah dalam mencari kebaikan. ayat al-qur’an ini sebagai gambaran bahwasanya kita manusia dianjurkan untuk berlomba guna memperoleh kebaikan. begitu juga dalam dunia olahraga, seorang atlet harus selalu meningkatkan intensitas latihan dan menjaga peforma guna meraih prestasi pada setiap pertandingan yang diikutinya. dari prestasi demi prestasi yang diraih akan datang dengan sendirinya berupa bonus. besar kecilnya jumlah bonus sesuai dengan even yang diikuti.
Atlet Indonesia yang meraih prestasi pada Asian Games 2018 bergelimang bonus. Dari pemerintah saja, setiap peraih medali emas nomor peroranngan mendapat hadiah sebesar Rp 1,5 miliar. Bagi peraih perak, mereka diganjar bonus sebesar Rp 500 juta, sedangkan peraih perunggu dihadiahi sebesar Rp 250 juta.  Untuk bonus medali emas ganda sekitar Rp 1 miliar per orang (satu pasangan mendapat Rp 2 miliar), dan beregu Rp 750 juta per orang. Sementara bagi atlet yang ambil bagian pada Asian Games 2018 semua mendapat jatah Rp 20 juta. Tidak hanya atlet, staf pelatih juga kebagian bonus dari pemerintah. pelatih dari kategori perorangan dan ganda yang atletnya menyumbangkan emas di Asian Games 2018 mendapatkan Rp 450 juta. Sedangkan pelatih yang atletnya meraih medali perak mendapatkan Rp 150 juta. Sementara, mereka yang mendapatkan medali perunggu mendapatkan Rp 75 juta. Untuk pelatih dari kategori beregu yang atletnya membawa pulang medali juga mendapatkan apresisi. Bila anak didiknya mendapatkan emas mendapatkan Rp 600 juta, perak sebesar Rp 200 juta dan perunggu mendapatkan Rp 100 juta. Selain bonus uang, atlet juga diberikan bonus rumah dan menjadi PNS, serta bonus-bonus lainnya baik dari instansi pemerintahan, swasta, dan perorangan.
Jadikanlah bonus sebagai penyemangat buat kita melakukan dan meraih prestasi. dan janganlah dikarenakan bergelimang bonus bisa membuat kita sombong, malas dan motivasi untuk berlatih menjadi berkurang sehingga prestasi yang diharapkan tidak dapat diraih. Gunakanlah bonus semanfaat mungkin, karena saat ini kita bergelimang uang, yang akan datang belum tentu kita punya uang.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Jika dikaitkan dengan aspek psikososial atlet dengan performance-nya, kita dapat melihat misalnya apa yang biasa atlet lakukan saat tekanan kompetisi semakin tinggi. Apakah atlet tersebut menjadi semakin termotivasi dan tergugah seiring meningkatnya tekanan, atau merasakan kecemasan berlebih sehingga sulit berkonsentrasi dan menjadi kurang percaya diri akan kemampuannya sendiri? Semua respon atau reaksi atlet terhadap situasi kompetisi mencerminkan kebiasaannya. Di sini, psikologi olahraga berperan membantu atlet untuk mengganti kebiasaan lama yang mengganggu performance atlet dengan kebiasaan baru yang lebih positif dan produktif dalam menghadapi situasi kompetisi.
Kebiasaan baru dapat dibentuk jika atlet memiliki tujuan yang jelas dan detail untuk dicapai, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi kecemasan, meningkatkan kemampuan konsentrasi, dan seterusnya. selain itu, tujuan itu juga dapat dipecah menjadi beberapa tujuan yang mengarah pada pencapaian tujuan akhir.

B.     Saran
Dalam penyusunan Tugas mandiri ini, kami selaku penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami masih dalam tarap pembelajaran.
Seperti ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan tugas mandiri berikutnya sehingga tugas mandiri berikutnya lebih sempurna dan lebih baik.

REFERENSI

Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-aspek Psikologis dalam Coaching. Jakarta: CV.
Tambak Kusuma.
Gunarsa, Singgih D. Psikologi Olahraga Prestasi” Gunung Mulya, Jakarta 2008Hidayat, Yusuf. (2008). Pengantar Psikologi Olahraga. Bandung: FPOK-UPI.
Miftakhul Jannah. 2012. Peran Konsentrasi, Kepercayaan diri, Regulasi Emosi, Kemampuan Goal Setting, dan Persisten Terhadap Prestasi Pelari Cepat 100 Meter Perorangan. Ringkasan Disertasi. Yogyakarta: Program Doktor Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada www.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar