ANALISIS KONDISI
PSIKOLOGIS ATLET ATLETIK MUHAMMAD LALU ZOHRI SEBELUM PERTANDINGAN, SAAT PERTANDINGAN DAN SESUDAH
PERTANDINGAN ASIAN GAMES 2018
MATA KULIAH PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
DISUSUN OLEH :
DIAN WAHYUDI, S.Pd (P2A118023)
MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Cabang olahraga atletik merupakan gabungan dari beberapa
jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan
menjadi Lari, Lempar, Lompat. Kata ini berasal dari bahasa
Yunani "athlon" yang berarti "kontes". Atletik
merupakan cabang olahraga yang diperlombakan pada Olimpiade pertama
pada 776 SM. Kalau
kita mengatakan perlombaan atletik, pengertiannya adalah meliputi perlombaan
jalan cepat, lari, lompat, dan lempar, yang dalam bahasa Inggris digunakan
istilah “track and field”. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti
perlombaan yang dilakukan di lintasan (track) dan di lapangan (field).
Olahraga
atletik selalu dipertandingkan dalam event-event kecil maupun besar besar, baik
itu tingkat provinsi (Porprov), tingkat Nasional (PON), tingkat Asia tenggara
(Sea Games), Tingkat Asia (Asian Games) dan tingkat Dunia (Olimpiade) serta
evant-event lainya. olahraga ini banyak menyediakan medali dikarenakan
banyaknya nomor pertandingan yang dilombakan. Nomor yang dipertandingkan dalam
atletik adalah :
1.
Nomor – nomor Lari
Ø Lari Jarak pendek (100,
200, 400 m)
Ø Lari Jarak menengah (800
dan 1500 m)
Ø Lari jarak jauh (5000,
10.000 m dan marathon 42,195 km)
Ø Lari halang rintang
Ø Jalan cepat (10.000,
20.000, 50.000 m)
2.
Nomor – nomor Lompat
ü Lompat jauh, lompat
jangkit, lompat tinggi, dan lompat galah.
3.
Nomor – nomor Lempar
ü Tolak peluru, lempar
cakram, lempar lembing, lontar martil.
Indonesia banyak melahirkan atlet-atlet hebat cabang
olahraga atletik, Atlet yang berhasil mengukir prestasi dikancah pertandingan
level Asia dan Asia Tenggara diantaranya M. Sarengat (Emas 100 M Asian Games
1962), Maria Natalia Londa (Emas Lompat Jauh Asian Games Icheon 2014) AF
Matulessy (Perunggu lempar lembing Asian Games 1951 India), Suryo Agung Wibowo
(Emas Sea Games 2009) Irene Joseph (perunggu Sea Games 2007) Trianingsih (emas
5000 m Sea Games 2015) Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko
Rimbawan dan Bayu Kertanegara (Perak
Estafet 4 x 100 M Asian Games 2018) Serta masih banyak lagi atlet lainnya yang
mampu mengukir sejarah guna mengharumkan Indonesia dilevel Asia.
Afdiharo
Mardi Lestari adalah satu-satunya atlet dari Benua Asia yang bisa ikut pada
Olimpiade Soul 1988 dan hanya mampu sampai babak semifinal dan pada saat itu
Mardi Lestari mendapat julukan manusia tercepat Asia. Seorang anak muda berusia
18 tahun berasal dari keluarga miskin yang tinggal di desa yang berada di pulau
Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah orang Indonesia Pertama yang mampu
menjadi juara dunia lari jarak pendek. Atlet tersebut bernama Lalu Muhammad Zohri peraih Emas Kejuaran Dunia Junior
2018 di Finlandia. Lalu Muhammad Zohri berhasil melaju ke babak final nomor
lomba lari 100 m serta bersama rekannya meraih
medali perak estafet 4 x 100 m.
Lalu Muhammad Zohri mendadak tenar. Laki-laki
yang kerap disapa Zohri ini lahir di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada 1 Juli 2000.
Ia adalah putra ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad dan bekerja sebagai nelayan. Sejak kecil Zohri hidup mandiri dan tak mampu bahkan dia adalah anak
bungsu dari empat bersaudara dan yatim piatu karena orang tua telah lama
meninggal. Selain hanya bisa berlatih telanjang kaki di atas pasir pantai, kedua orang tua Zohri kini telah tiada. Ibunya meninggal saat dia masih duduk
di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat saat dirinya menginjak usia 17 tahun.
Zohri pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya yang terbuat dari kayu. Banyak
sekali prestasi yang ditorehkan oleh Zohri, dan yang paling fenomena setelah sukses menyabet medali emas pada
perhelatan Kejuaraan Atletik Dunia U-20 2018 yang diselenggarakan di Finlandia.
Ia menjadi sprinter 100 meter tercepat di dunia dengan rekor 10.18. Zohri juga berhasil masuk Final lari
100 m, dan menjadi satu-satunya wakil dari asia tenggara. Namun perjuangan
Zohri di Final belum berbuah medali dan hanya menempati peringkat ke enam dengan
catatan waktu 10.20 detik. Kegagalan Lalu Muhammad Zohri di final 100 m dapat
terobati pada nomor estafet 4 x 100 m memperoleh medali perak.
Seluruh prestasi
yang diraih oleh atlet tersebut tidaklah mudah seperti membalikkan telapak
tangan. Proses pencapaian prestasi maksimal dalam
olahraga memerlukan jangka waktu yang
panjang dan biaya yang besar untuk mendapatkan hasil yang optimal. Keberhasilan
atlet dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling mendukung antara faktor yang satu dengan lainnya.
Faktor tersebut berasal dari dalam maupun dari
luar atlet itu sendiri yang meliputi faktor fisik, psikologis, teknik, taktik, pelatih, sarana dan prasarana latihan, latihan,
sosial, dan sebagainya. Menurut Alderman dalam
Sudibyo Seyobroto (1993:16) menyatakan bahwa penampilan atlet dapat ditinjau dari empat dimensi yaitu :1).
Dimensi kesegaran jasmani meliputi antara lain daya tahan, daya ledak, kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan,
reaksi, keseimbangan, ketepatan, dan sebagainya. 2).
Dimensi keterampilan meliputi antara lain:
kinestetika, kecakapan berolahraga tertentu, koordinasi gerak, dan sebagainya. 3). Dimensi bakat pembawaan fisik meliputi
antara lain: keaadan fisik, tinggi badan, berat
badan, bentuk badan, dan sebagainya. 4). Dimensi psikologi meliputi: motivasi, percaya diri, agresivitas,
disiplin, kecemasan, intelegensi, keberanian, bakat, kecerdasan, emosi, perhatian, kemauan, dan
sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka
rumusan masalah yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah : bagaimana psikologi
atlet lari Lalu Muhammad Zohri pada waktu sebelum pertandingan, saat
pertandingan dan setelah pertandingan Asian Games 2018 Jakarta – Palembang.
BAB II
PEMBAHASAN
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku
sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada
pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat
bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri. Ilmu
psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai
psikologi olahraga. Singer, R.N. (1980)
mengemukakan secara singkat bahwa psikologi olahraga adalah “the Science of Psychology applied
to athletes and athletic situations” Cox,
R.H. (1986) mengemukakan bahwa Sport
Psychology is a science in which the principles of psychology are applied in a
sport setting”. Jadi,
Psikologi Olahraga pada hakikatnya adalah psikologi yang diterapkan dalam
bidang olahraga, meliputi faktor-faktor yang berpengatuh secara langsung
terhadap atlet dan faktor-faktor di luar atlet yang dapat mempengaruhi
penampilan (performance) atlet tersebut.
Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga i adalah
untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat
dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada
dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga
adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang
lebih baik dari sebelumnya. Psikologi olahraga juga diperlukan
agar atlet berpikir mengenai, mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin
mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut. Pengaruh psikologis pada atlet akan sangat dibutuhkan pada waktu sebelum pertandingan, saat pertandingan
dan sesudah pertandingan.
A. Sebelum Pertandingan
Setelah atlet dilatih baik fisik, teknik,
strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk
menguji hasil latihannya adalah dengan terjun ke dalam pertandingan. Tentunya
diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang
didapat saat latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia
tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat
pertandingan. Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan
situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal untuk menghadapi suatu
pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga
tercapailah prestasi puncak.
Yang terasa
berat mengalami gangguan psikologi sebelum pertandingan adalah Lalu Muhammad
Zohri. Atlet berusia 18 tahun ini mendapatkan berita duka yang sangat sedih dan
rasa rindu yang teramat dalam terhadap keluarga dikampung apalagi saat ini keluarganya sedang
mengungsi karena gempa yang mengguncang Lombok beberapa waktu lalu. "Saya memang sedikit terganggu
dengan berita itu. Kepikiran juga, sekarang keluarga masih mengungsi di gunung.
Namun, mereka meyakinkan saya baik-baik saja dan agar fokus saja ke Asian Games 2018," ucap Lalu Muhammad Zohri.
Menurut
analisis Kelompok 5, cara mengatasi permasalahan yang dihadapi sebelum
pertandingan antara lain adalah :
1. Berpikiran Positif
Lalu
Muhammad Zohri atlet lari jarak pendek dan estafet pada ajang Asian Games 2018 hendaknya
harus selalu berpikir positif dan tidak hanyut dengan apa yang terjadi di
Lombok. Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara
berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal
ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih
yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan
berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan
motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif
merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental
yang tangguh guna mengikuti pertandingan dan meraih prestasi membanggakan
pada ajang Asian Games
2018.
2. Motivasi
Motivasi adalah salah satu elemen penting guna
meningkatkan peforma atlet terkhusus Lalu Muhammad Zohri dkk. Motivasi adalah
suatu kekuatan dari dalam maupun dari luar diri sendiri yang menginisiasi,
memberi arah, menetukan intensitas dan mempengaruhi suatu perilaku menjadi
persisten/berkesinambungan/terus menerus. ( Vallerand dan Thill, 2007). Dengan
demikian motivasi merupakan penggerak dan pendorong atlet guna tetap konsisten
dalam berlatih. Hal ini dialami oleh Lalu Muhammad Zohri yang sedang mengalami
kegalauan yang diakibatkan oleh bencana alam yang melanda keluarganya di kampung
halaman.
Berkat
dorongan dan keinginan yang kuat untuk menjadi juara dan diiringi dengan banyak
tawakal, berdo’a dan selalu ingat dan berserah diri kepada Allah SWT menjadi
kunci motivasi intrinsik yang perlu dilakukan oleh Zohri. Motivasi ekstrinsik
juga diberikan oleh kakak kandung zohri yang selalu berpesan agar zohri jangan
selalu memikirkan keadaan mereka. begitu juga dari teman Zohri di Lombok memberi motivasi agar saya tidak menyerah dan jangan
berputus asa. Dia meminta saya untuk tetap tawakal, berdoa, dan selalu ingat
Allah," kata Zohri. Pelatih, pengurus dan rekan-rekan zohri di
pelatnas Atletik juga memberikan motivasi yang membuatnya terus berlatih guna
mengibarkan bendera merah putih pada ajang Asian Games 2018 Jakarta - Palembang.
3.
Kekompakan
Pada cabang olahraga atletik, khususnya nomor lomba lari estafet 4 x 100 m
banyak sekali mengalami gangguan dari segi psikologi. Atlet lari estafet 4 x 100 m yang terdiri dari Fadlin,
Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan dan Bayu Kertanegara sangat sulit untuk melakukan kekompakan.
Untuk mempersiapkan dan melatih kekompakkan empat orang ini semua untuk menjadi satu,
satu tujuan, tidak mudah. Kekompakan dapat dikatakan sebagai sekumpulan orang
yang memiliki tujuan sama saling berinteraksi dalam kinerja membentuk suatu
kolaborasi usaha pada setiap anggota kelompok sesuai peran masing-masing.
(Sukendro, 2017). Jadi, pada setiap latihan, setiap hari, kami
selalu berdiskusi terutama
perpindahan tongkat dari pelari pertama ke dua, dari dua ke tiga, dan tiga ke
empat apakah dengan jarak segitu sudah cocok atau belum. Di antara mereka juga
bisa memperbaiki pertukaran tongkat itu. Memang rahasianya di estafet adalah
pertukaran tongkat," kata Eni Nuraini (Pelatih lari jarak
pendek Indonesia). Sementara itu, “Fadlin mengatakan
kekompakan jadi kunci agar pertukaran tongkat berlangsung mulus. Faktor inilah
yang harus terus diasah agar bisa percaya satu sama lain. Kuncinya agar perpindahan tongkat mulus
adalah kebersamaan tim dan juga kekompakan. Selain itu, kami satu sama
lain juga sudah sama-sama paham keinginan teman. Selain itu, yang
terpenting juga harus percaya satu sama
lain.
4.
Pembatasan Media Massa
Media massa berupa media cetak dan elektronik. Dalam penyampaian
pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapat mempengaruhi opini
kita. Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar
afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga membentuk sikap tertentu. Sekretaris Jenderal Pengurus
Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Tigor Tanjung, tak
membantah adanya instruksi pembatasan interaksi antara Lalu Muhammad Zohri
dengan media jelang Asian Games 2018. Dikatakan Tigor, hal itu
dilakukan pihaknya demi kebaikan sang atlet. Seperti diketahui, beberapa hari jelang Asian Games 2018
pergerakan media untuk mewawancarai Lalu Muhammad Zohri menjadi terbatas.
Contohnya ketika Bola.com mencoba untuk mewawancarai kampiun
Kejuaraan Atletik Dunia U-20 itu di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Kamis
(2/8/2018). Bola.com mendapatkan larangan untuk mewawancarai Zohri. Wakil
Sekretaris Jenderal PB PASI, Sri Hastuti Merdiko, yang saat itu berada di
lokasi menyebut untuk peliputan Zohri harus melalui perizinan terlebih dahulu.
Hal itu ternyata bukan berlaku untuk Zohri saja, melainkan seluruh atlet yang
bernaung di PB PASI.
Pembatasan ini sangat bagus,
karena semata-mata
bertujuan agar Lalu Muhammad Zohri dkk tidak terganggu konsentrasinya pada saat berlatih. Wartawan atau
fotografer seharusnya tidak masuk ke lintasan dan menyiarkan
berita-berita yang negatif buat atlet. Karena para atlet harus fokus pada program latihan yang diberikan jelang Asian Games 2018. dikhawatirkan, persiapan para atlet Atletik terganggu dengan pemberitaan di
media.
B. Saat Pertandingan
Saat
bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik atau bagaimana
harus melangkah dan berlari. Itu semua sudah dilatih
dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal
mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai
dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi
penuh hanya pada
pertandingan.
Menurut analisa dari kelompok 5,
cara mengurangi beban psikologi pada saat
pertandingan sebaiknya atlet dianjurkan untuk :
1. Berdoa dan Berserah diri kepada Allah SWT
Berdoa
adalah solusi terbaik melepaskan diri dari pikiran negatif. Jujurlah kepada Allah dengan apa yang
anda rasakan saat ini. Bila anda merasa takut, akuilah, dan
mintalah kepada Tuhan keberanian. Bila merasa lemah, akuilah, mintalah kepada
Tuhan diberi kekuatan. Atau berdoalah secara netral minta diberi kekuatan untuk
bermain sebaik mungkin. Atau cukup bersyukur, berpasrah akan menang-kalah
kepada Tuhan. Berdoa ini wajib dilakukan, tetapi jangan memaksakan diri berdoa
dalam cara yang anda tidak nyaman atau tidak biasa melakukannya. Intinya, berdoalah
dalam cara yang membuatmu nyaman. Dalam buku Quantum Ikhlas disebutkan
bahwa “Tuhan akan mengabulkan doa yang diucapkan di hati, bukan di mulut”.
2.
Fokus
Fokus pada permainanmu
sendiri. Jangan
memikirkan apapun, jangan memikirkan lawan, wasit, juri, nomor urut atau yang
lain. Fokuslah pada dirimu sendiri.
Jangan membebani pikiranmu dengan hasil pertandingan (menang atau kalah). yang
penting bermain sebaik mungkin dengan mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Perlu diketahui oleh atlit yaitu ketika ia
berlatih, atlit harus memiliki keteguhan mental “berlatih untuk menang”. Tetapi ketika akan bertanding, lupakan
menang kalah, pikirkan bagaimana “bermain
semaksimal mungkin”. keluarkan
power maksimal hingga hingga finis.
Toh apabila atlit telah berlatih secara sungguh-sungguh sebelumnya, semuanya akan menjadi
naluriah/otomatis.
Terkadang
kita merasa kesulitan untuk merasakan apakah pikiran kita terfokus atau tidak.
Inilah satu kata kunci untuk fokus: nikmatilah masa sekarang. Jangan memikirkan masa lalu, jangan
memikirkan masa depan. Jangan memikirkan yang sudah terjadi, atau
yang anda takutkan/perkirakan akan terjadi. Memikirkan masa lalu atau masa
depan akan membuat anda cemas dan mengurangi konsentrasi.
Pikiran
masa lalu contohnya: memikirkan lawan anda adalah seorang juara nasional,
bukankah itu hal yang sudah lalu? Atau terlalu memikirkan strategi bermain yang
diinstruksikan pelatih. Permainan dapat berlangsung diluar dugaan, jadi siap
saja dengan apapun yang terjadi. Sedangkan pikiran masa depan contohnya: merasa
takut akan terbanting, akan kalah, atau akan dihajar oleh lawan. Itu adalah
masa depan yang belum terjadi, jadi mengapa dipikirkan? Atau terlalu ambisius
memikirkan kemenangan. Atau memperediksi diri sendiri akan kalah. Apa yang terjadi di masa depan bukanlah
urusan anda, jadi nikmati saja permainan (saat sekarang) sebaik-baiknya. Sadari
benar-benar berada di mana anda saat ini, apa yang sedang anda lakukan,
kemudian nikmatilah. Bila anda memang
telah berlatih dengan serius, semuanya akan berjalan secara naluriah dan
otomatis.
3.
Melakukan pemanasan ringan
Sambil melakukan pemanasan ringan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat' dan optimis serta tetap berpikir positif jangan biarkan pikiran-pikiran
negatif. Pelatih dapat
mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas.
4. Memantau
tingkat kecemasan, jika mendapatkan kondisi kecemasan maka lakukan relaksasi. buatlah diri sendiri senyaman mungkin. menurut
kelompok 5, rileksasi bisa berupa menarik napas dalam-dalam terus dihembuskan
melalui mulut sambil mengucapkan ‘huaahhh’, melakukan lompatan-lompatan ringan
dan lain sebagainya.
5.
Buat pikiran tetap rileks namun terfokus.
Jangan terlalu rileks, tetapi juga jangan terlalu tegang. Teralu rileks akan
membuat anda lengah dan meremehkan lawan, sementara terlalu tegang akan
menurunkan kemampuan anda. Kata kuncinya adalah: Nikmati sebaik-baiknya.
6.
Berlombalah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
7. Menjalankan strategi yang telah disiapkan. maksudnya strategi
yang telah disiapkan jangan diubah jika
strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan,
lakukan
penyesuaian dengan alternatif strategi yang
sudah dipersiapkan.
8. Hindari hal-hal
negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap
diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan sendiri dan
menyerah sebelum pertandingan selesai.
C. Sesudah
Pertandingan
Apapun
hasilnya, menang atau kalah, itu
bukanlah suatu alasan untuk kehilangan etika terhadap orang lain atau diri
sendiri. Seorang atlit sejati harus tetap bersikap dewasa
bagaimanapun hasil pertandingannya. Menang
atau kalah, ia tetap harus menjunjung etika baik pada orang lain atau pada
dirinya sendiri. Kata kuncinya adalah: Bersikap dewasa.
Kekecewaan
karena kalah, atau euforia karena menang seringkali membuat seoarng atlit
kehilangan kendali dan bersikap kekanak-kanakan. Boleh saja menikmati
kemenangan atau meratapi kekalahan tetapi itu baru boleh dilakukan setelah
pulang bertanding. Ketika pertandingan belum selesai, ketika masih ada rekan
anda satu tim yang masih bermain, anda harus mengendalikan diri.
Menurut analisa kelompok 5, setelah pertandingan atlet
dianjurkan untuk :
1.
Etika menang-kalah
Entah anda menang
atau kalah, anda tetap harus memberi
dukungan dan semangat kepada lawan yang kalah, bisa berupa ucapan, berjabat tangan dan pelukan. Jangan mentang-mentang sudah menang lalu anda
berlaku seenaknya, apalagi bila anda bertingkah laku sombong, maka bukan
simpati atau penghormatan yang anda dapatkan tapi rasa dengki dan muak. Sesungguhnya
keberhasilan seseorang.
Contoh-contoh
diatas juga berlaku apabila anda kalah. Jangan
karena kalah lalu anda bertindak seenaknya. Jangan terhanyut dalam
kesedihan atau kekecewaan, karena anda masih
dibutuhkan meskipun anda kalah. Kuasai diri
anda, karena emosi negatif yang berlebihan akan membuat pikiran menjadi negatif.
2. Istirahat
Yang harus dilakukan setelah bertanding adalah pendinginan
(cooling down) dan kemudian beristirahat. Terutama bila
setelah itu anda harus bermain lagi. Ganti kaos yang basah karena keringat
dengan kaos kering (inilah pentingnya mempersiapkan perlengkapan pribadi),
gantung baju seragam (yang mungkin akan dipakai lagi), bereskan kembali
peralatan agar jangan tercecer, karena anda
akan membutuhkannya lagi.
Kemudian
setelah itu rilekskan pikiran dan tubuh, istirahatlah untuk memulihkan
kebugaran. Sama seperti sebelumnya, buat diri anda senyaman mungkin. Kemudian
dalam istirahat pun anda butuh fokus. Jangan memikirkan kesalahan atau
kelalaian yang baru saja diperbuat dalam bertanding tadi. Terutama bila anda
menang dan maju ke babak berikutnya, jangan merasa senang dahulu karena anda
masih harus berjuang hingga final. Fokus pada apa yang anda lakukan
sekarang: istirahat
untuk memulihkan tubuh dan pikiran.
Ini juga berlaku bila
ternyata anda kalah atau gagal maju ke babak selanjutnya. Pendinginan tetap
harus dilakukan, lalu istirahatlah untuk menjernihkan pikiran. Biasanya memang
ada luapan emosi yang berlebihan (sedih atau marah), tetapi pada saat itu
istirahatlah sejenak agar otak dapat berpikir rasional, sehingga anda bisa
bersikap dewasa dalam menghadapi kekalahan.
3.
Evaluasi
Entah
menang atau kalah, evaluasi wajib dilakukan, namun sebaiknya kita bersikap fleksibel mengenai waktu dan
caranya. Terkadang memang pelatih mengadakan forum khusus untuk mengevaluasi
atlit, atau pelatih menyampaikan evaluasi permainan dalam pembicaraan empat
mata yang sifatnya pribadi, atau ada yang sama sekali tidak memberikan evaluasi
(biasanya karena pelatih menganggap atlit sudah bisa mengevaluasi permainannya
sendiri). Entah pelatih memberikan atau tidak, sebagai atlit anda harus
melakukan evaluasi. Evaluasi bisa dilakukan secara mandiri atau oleh
pelatih/ofisial.
Evaluasi
secara mandiri adalah dengan melakukan
monolog dengan diri sendiri. Berbicaralah dengan diri sendiri,
bagaimana permainan anda tadi. Berdiskusilah dengan diri sendiri dalam hati
sejujur mungkin. Atau anda bisa melakukannya dengan menuliskannya (seperti
membuat catatan harian). Intinya, anda melakukan flashback,
memutar kembali apa yang telah terjadi. Sebaiknya
lakukan evaluasi mandiri dulu kemudian ceklah dengan berdiskusi bersama pelatih
atau ofisial anda. Cara yang umum dipakai adalah menanyakan kepada
mereka pertanyaan terbuka ”Bagaimana
menurut mas/mbak permainan saya tadi?”. Pertanyaan itu akan membuat
pembicaraan berlanjut menjadi diskusi. Pembicaraan ini dapat berlangsung
pribadi atau dengan kehadiran orang lain (teman setim, manajer atau ofisial
lainnya), yang penting lakukanlah dalam suasana yang santai. Bila anda dalam
suasana rileks, anda akan lebih mudah menerima masukan.
Yang
perlu diperhatikan adalah jangan melakukan evaluasi ketika anda masih
merasakan emosi, karena
evaluasi itu tidak akan berguna. Ketika
masih emosi, anda cenderung tidak objektif menilai diri sendiri. Rasa
marah, sesal, kecewa, sedih, dll karena karena kekalahan bisa membuat anda
menghakimi diri sendiri sebagai atlit yang payah, kalahan, dan sederet julukan
negatif lainnya. Bukan hanya itu, ketika masih merasakan emosi, anda akan
menjadi sangat sensitif terhadap kritik. Kritik, saran, bahkan guyonan kecil
saja bisa membuat anda semakin minder/rendah diri, atau lebih parah lagi anda
anggap sebagai penghinaan. Ini juga berlaku bila anda menang atau meraih
juara. Euforia kemenangan akan membuat anda tidak mampu melihat kesalahan atau
kekurangan diri sendiri. Dalam situasi ini, sebagai orang yang berada di puncak
pun anda tidak akan bisa menerima kritik saran dari orang lain karena toh anda
sudah berhasil. Disini kita akan mudah terlena.
Oleh
karena itu istirahatkan pikiran dan tubuh anda
dulu hingga anda bisa secara objektif melakukan evaluasi. Tubuh mungkin
akan pulih kembali dalam hitungan jam, namun psikis berbeda-beda setiap orang.
Ada yang bisa langsung pulih secara psikis dalam beberapa menit, beberapa jam,
beberapa hari, atau bahkan beberapa minggu baru bisa berpikir jernih dan
rasional. Biasanya ini tergantung kedewasaan dan karakter masing-masing atlit.
Jadi tidak masalah bila evaluasi baru dilakukan beberapa hari sepulang dari
pertandingan, yang penting tunggulah hingga pikiran anda objektif, tetapi
semakin cepat semakin baik. Biasanya pelatih yang baik akan memberikan evaluasi
di hari pertama latihan setelah atlit pulang dari pertandingan.
4.
Jangan Terjerat Star Syndrome (Bintang dadakan)
Mungkin dapat kami artikan Star syndrome merupakan gejala ketidak normalan yang terjadi akibat dari
seseorang yang merasa terkenal atau popular, hebat dan sebagainya sehingga
akhirnya menjadi lupa diri. Ada istilah "Mempertahankan lebih berat daripada
meraihnya". Apa yang diraih Zohri sewaktu-waktu bisa saja berubah. Zohri
yang kini dielu-elukan, bisa saja dilupakan. Zohri diminta untuk tak
terpengaruh dengan banjirnya pemberitaan, dan pujian mengenainya sehingga dia bisa konsentrasi penuh pada kejuaraan
selanjutnya.
Ketua Umum Pengurus Besar
Persatuan Atletik Indonesia (PB PASI), Mohammad Hasan meminta pencapaian Zohri
tidak perlu dibesar-besarkan. Dia khawatir, Zohri akan terbeban karena
mendapatkan banyak pujian. Presiden Jokowi
juga mengucapkan terima kasih atas prestasi membanggakan yang ditorehkan Zohri. "Semangat
latihan, jangan sombong, jangan sombong, selalu rendah hati karena perjalanan
saya Insya Allah masih panjang," kata Zohri
meniru perkataan Jokowi.
5.
Bergelimang Bonus
Bonus adalah kompensasi
tambahan yang diberikan kepada seorang atas
prestasi yang diraihnya yang nilainya di atas nilai normalnya. Bonus bisa
digunakan sebagai penghargaan terhadap pencapaian suatu hasil tujuan atas dedikasinya. Bonus bisa juga menjadi dorongan
seseorang untuk meraih prestasi.
Allah SWT berfirman (Surat Al Baqarah ayat 148) Fastabiqul Khoirot yang artinya berlomba
– lombalah dalam mencari kebaikan. ayat al-qur’an ini sebagai gambaran
bahwasanya kita manusia dianjurkan untuk berlomba guna memperoleh kebaikan.
begitu juga dalam dunia olahraga, seorang atlet harus selalu meningkatkan
intensitas latihan dan menjaga peforma guna meraih prestasi pada setiap
pertandingan yang diikutinya. dari prestasi demi prestasi yang diraih akan
datang dengan sendirinya berupa bonus. besar kecilnya jumlah bonus sesuai
dengan even yang diikuti.
Atlet Indonesia yang meraih prestasi pada Asian Games 2018 bergelimang bonus. Dari pemerintah saja,
setiap peraih medali emas nomor peroranngan mendapat hadiah sebesar Rp 1,5
miliar. Bagi peraih perak, mereka diganjar bonus sebesar Rp 500 juta, sedangkan
peraih perunggu dihadiahi sebesar Rp 250 juta. Untuk bonus medali emas
ganda sekitar Rp 1 miliar per orang (satu pasangan mendapat Rp 2 miliar), dan
beregu Rp 750 juta per orang. Sementara bagi atlet
yang ambil bagian pada Asian Games 2018 semua mendapat
jatah Rp 20 juta. Tidak hanya atlet, staf pelatih juga kebagian bonus dari
pemerintah. pelatih dari kategori
perorangan dan ganda yang atletnya menyumbangkan emas di Asian Games 2018
mendapatkan Rp 450 juta. Sedangkan pelatih yang atletnya meraih medali perak
mendapatkan Rp 150 juta. Sementara, mereka yang mendapatkan medali perunggu
mendapatkan Rp 75 juta. Untuk pelatih dari
kategori beregu yang atletnya membawa pulang medali juga mendapatkan apresisi.
Bila anak didiknya mendapatkan emas mendapatkan Rp 600 juta, perak sebesar Rp
200 juta dan perunggu mendapatkan Rp 100 juta. Selain
bonus uang, atlet juga diberikan bonus rumah dan menjadi PNS, serta bonus-bonus
lainnya baik dari instansi pemerintahan, swasta, dan perorangan.
Jadikanlah bonus sebagai penyemangat buat kita melakukan dan meraih
prestasi. dan janganlah dikarenakan bergelimang bonus bisa membuat kita
sombong, malas dan motivasi untuk berlatih menjadi berkurang sehingga prestasi
yang diharapkan tidak dapat diraih. Gunakanlah bonus semanfaat mungkin, karena
saat ini kita bergelimang uang, yang akan datang belum tentu kita punya uang.
.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jika
dikaitkan dengan aspek psikososial atlet dengan performance-nya, kita dapat
melihat misalnya apa yang biasa atlet lakukan saat tekanan kompetisi semakin
tinggi. Apakah atlet tersebut menjadi semakin termotivasi dan tergugah seiring
meningkatnya tekanan, atau merasakan kecemasan berlebih sehingga sulit
berkonsentrasi dan menjadi kurang percaya diri akan kemampuannya sendiri? Semua
respon atau reaksi atlet terhadap situasi kompetisi mencerminkan kebiasaannya.
Di sini, psikologi olahraga berperan membantu atlet untuk mengganti kebiasaan
lama yang mengganggu performance atlet dengan kebiasaan baru yang lebih positif
dan produktif dalam menghadapi situasi kompetisi.
Kebiasaan
baru dapat dibentuk jika atlet memiliki tujuan yang jelas dan detail untuk
dicapai, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya, meningkatkan
kepercayaan diri, mengurangi kecemasan, meningkatkan kemampuan konsentrasi, dan
seterusnya. selain itu, tujuan itu juga dapat dipecah menjadi beberapa tujuan
yang mengarah pada pencapaian tujuan akhir.
B. Saran
Dalam penyusunan Tugas mandiri ini, kami selaku
penyusun tentunya mengalami banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun
penggunaan bahasa yang kurang di pahami. Untuk itu kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya, di karenakan kami masih dalam tarap pembelajaran.
Seperti ada pepatah
mengatakan : “ Tak ada gading yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih
baik lagi dalam pembuatan tugas mandiri berikutnya sehingga tugas mandiri berikutnya lebih sempurna dan lebih baik.
REFERENSI
Harsono.
(1988). Coaching dan
Aspek-aspek Psikologis dalam Coaching. Jakarta: CV.
Tambak
Kusuma.
Gunarsa, Singgih D. Psikologi
Olahraga Prestasi” Gunung Mulya, Jakarta 2008Hidayat,
Yusuf. (2008). Pengantar
Psikologi Olahraga. Bandung: FPOK-UPI.
Miftakhul Jannah. 2012. Peran
Konsentrasi, Kepercayaan diri, Regulasi Emosi, Kemampuan Goal Setting, dan
Persisten Terhadap Prestasi Pelari Cepat 100 Meter Perorangan. Ringkasan
Disertasi. Yogyakarta: Program Doktor Fakultas Psikologi Universitas
Gadjah Mada www.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar